Pemda Diminta Pantau Terus Pergerakan Kasus COVID-19 di Daerah

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 17:26 WIB
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito
Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito mengungkapkan pihaknya menggunakan analisis 7-day moving average periode 1-7 November 2021 dalam memantau perkembangan COVID-19 di berbagai daerah. Analisis ini bersumber dari data Kementerian Kesehatan melalui sistem Bersatu Lawan COVID-19.

Ia menjelaskan analisis ini dapat digunakan untuk memantau perkembangan kasus dan melihat pola perkembangan kasus ke depan. Menurutnya, bupati atau wali kota dapat menggunakan analisis dengan cara membandingkan rata-rata kasus harian selama 7 hari dengan rata-rata kasus harian selama 7 hari sebelumnya.

"Apabila kabupaten/kota menunjukkan peningkatan maka hal ini perlu diantisipasi terlebih kita akan segera memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru)," kata Wiku dikutip dari laman covid19.go.id, Rabu (10/11/2021).

Berdasarkan hasil analisis minggu ini, ungkap Wiku, terdapat beberapa kabupaten/kota yang mengalami tren kenaikan dan semuanya berasal dari Pulau Jawa. Wiku menyebutkan di Provinsi Banten, terdapat 2 dari 8 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan kasus atau sebanyak 25%, yaitu di Lebak dan Kota Tangerang.

Sementara di DKI Jakarta, Wiku menerangkan ada 3 dari 6 kabupaten/kota atau 50%, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Sedangkan di Provinsi Jawa Barat terdapat 7 dari 27 kabupaten kota atau 26%, yaitu Sukabumi, Cirebon, Sumedang, Bekasi, Kota Bogor, Kota Bekasi dan Kota Depok.

Lebih lanjut, ia menyebutkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdapat 2 dari 5 kabupaten kota atau 40% wilayah yang mengalami kenaikan kasus, yaitu Kulon Progo dan Bantul. Sementara di Jawa Tengah terdapat 10 dari 35 kabupaten/kota atau 28,6% kenaikan kasus, yaitu Banjarnegara, Boyolali, Grobogan, Temanggung, Tegal, Wonosobo, Karanganyar, Blora, Kendal dan Kota Surakarta. Lalu, di Jawa Timur terdapat 8 dari 38 kabupaten/kota atau 21,05% yaitu Pacitan, Banyuwangi, Madiun Bojonegoro, Trenggalek, Mojokerto Ngawi dan Pamekasan.

Menurut Wiku, dari persebaran tersebut terlihat bahwa penyumbang terbesar kabupaten/kota yang mengalami kasusnya berasal dari Jawa Tengah, yaitu memiliki 10 kabupaten/kota yang mengalami tren kenaikan kasus.

Untuk itu, Wiku memohon kepada seluruh bupati dan wali kota kabupaten/kota untuk terus membaca menganalisis data.

"Apabila para bupati/wali kota dapat memantau dan menganalisis data di wilayahnya masing-masing, maka sedikit saja ada tren peningkatan dapat terdeteksi dan terantisipasi dengan lebih cepat," tegasnya.

(prf/ega)