Kepsek di Riau Bantah Aniaya Santri: Itu Sanksi Gegara Berkelahi-Pacaran

Raja Adil Siregar - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 11:33 WIB
Ilustrasi Penganiayaan
Ilustrasi penganiayaan (Foto: dok. Istimewa)
Pekanbaru -

Seorang santri SMP Islam Terpadu (IT) Al-Husna, Indragiri Hulu (Inhu), Riau, A (12), melapor ke polisi karena dianiaya ustaz. Pihak sekolah membantah A dianiaya.

"Memang ada kejadian itu, tapi kita tidak terima dibilang melakukan kekerasan dan penganiayaan," kata Kepala SMP IT Al-Husna, Antoni Surya Putra, saat dimintai konfirmasi, Rabu (10/11/2021).

Antoni menyebut A dihukum gara-gara berkelahi saat berada di SMP IT Al-Husna. Pihak sekolah pun keberatan kalau A mengaku dianiaya.

"A berkelahi, dia berkelahi. Berkelahi. Mencuri, pacaran, itu sanksi paling berat di sekolah. Kelahi saat sedang ngaji, kita hukum benar. Kalau bilang kekerasan dan aniaya, tidak terima," katanya.

Dia mengatakan selama ini tidak ada anak yang berkelahi di ponpes. Menurutnya, ada sanksi tegas bagi santri yang berkelahi.

"Seharusnya ini kami keluarkan. Kemudian memang sama anak kita mendidik dengan hati, kami sayang sama mereka. Benar itu memang dipukul," katanya.

Antoni mengatakan sanksi dipukul sejak awal sudah disampaikan kepada anak dan wali. Mereka yang tidak bersedia tak diluluskan masuk ke ponpes tersebut.

"Dari awal sudah kita sampaikan. Saat kita wawancara kita bawa rotan, kalau anak ini melanggar aturan, ya dirotan. Kalau nggak bersedia, ya tidak kita luluskan. Sudah ada pernyataan di atas meterai itu," katanya.

Dia mengatakan A merupakan santri yang baru pindah dari Pekanbaru. Antoni mengatakan juga masih punya hubungan keluarga dengan A.

"Anak ini pindahan dari Pekanbaru, masih keluarga, saya yang bawa. Kesalahannya, saya bawa tanpa ada buat pernyataan tertulis karena keluarga. Secara lisan kami sampaikan. Seluruh santri baru semua pakai pernyataan. Jadi yang tidak setuju ya tidak lulus," katanya.

"Kenapa banyak luka lebam, karena setiap hari dia melanggar. Kami punya catatan peraturan apa yang dilanggar, tentu banyak hukumannya," sambung Antoni.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.