Ahli Usul Karantina 7 Hari Usai Akses Masuk dari Luar Negeri Ditambah

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 08:37 WIB
Epidemiolog Griffith University Austealia
Dicky Budiman (Foto: Screenshoot 20detik)
Jakarta -

Pemerintah menambah akses pintu masuk kedatangan internasional dari Bandara Raja Haji Fisabilillah, Kepulauan Riau. Epidemiolog mengingatkan pentingnya karantina bagi orang yang datang dari luar negeri harus dilakukan minimal 7 hari untuk mengurangi risiko penularan virus Corona (COVID-19).

"Sebetulnya Indonesia memang punya banyak pintu masuk ya darat, laut, udara. Yang mudah untuk dikontrol memang yang udara, yang laut sebenarnya juga banyak yang masuk. Artinya kalau bicara potensi masuk ini karena luasnya wilayah kita ini sulit," kata epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, kepada wartawan, Selasa (9/11/2021).

"Yang harus kita lakukan ini misalnya, nggak masalah ada 3 (pintu masuk), tapi kriteria masa karantina yang 7 hari harus dilakukan, kriteria karantina 7 hari itu penting," sambungnya.

Lonjakan Kasus di Eropa Harus Direspons Serius

Dicky kemudian mengingatkan lonjakan kasus Corona di Eropa. Dicky menyebut varian Delta plus adalah salah satu ancaman di tengah varian Delta yang masih menular saat ini.

"Di tengah situasi global dalam gelombang ketiga dan pesan yang disampaikan dari belahan benua Eropa itu sangat serius, bahwa kasus infeksi mereka meningkat, kematian mereka meningkat, kasus hunian rumah sakit mereka juga meningkat dan ini semua dilatari juga ada fakta varian delta yang belum usai masa krisisnya, bahkan ada juga adanya ancaman baru yaitu Delta varian plus, ini salah satu sub-variannya menjadi satu ancaman tersendiri. Karena dia bisa memiliki tren peningkatan di tengah dominasi Delta varian itu sendiri," sebutnya.

Dicky meminta pemerintah merespons serius lonjakan kasus Corona di Eropa itu. Salah satunya, Dicky menyebut karantina minimal 7 hari harus dilakukan bagi orang yang datang dari luar negeri.

"Dan ini harus direspons dengan sangat serius, dengan cara apa? Dengan kombinasi, yaitu dengan memperkuat pintu masuk dengan... artinya ada penerapan konsistensi dites PCR sebelum keberangkatan maupun pada saat kedatangan, termasuk ya saat ini sudah benar kalau pemerintah menerapkan masa karantina minimal 7 hari itu," katanya.

Dicky menambahkan bahwa karantina di bawah 5 hari sangat berisiko. Oleh karena itu, karantina minimal 7 hari lebih dia sarankan.

"Jadi 7 hari, kenapa selalu saya sampaikan 5 hari ke bawah itu sangat riskan, kecuali orang yang datang ini dari negara yang level transmisinya itu 1-2 cakupan vaksinasi di negaranya lengkap sudah di atas 80 persen, atau di atas 70 persen, test positivity rate-nya di bawah 1 persen stabil lebih dari 1 bulan. Nah itu sudah menempatkan kecil, kemudian ditambah juga orangnya dari kriteria secara tes PCR, tidak bergejala, tidak kasus kontak, semuanya sehat negatif ya itu akan bisa tanpa karantina," katanya.

"Tapi kalau kriteria itu semua, ini kan masih terbatas negara yang memiliki kriteria seperti itu termasuk pelancongnya, apalagi dia transit di negara yang memiliki level transmisi yang rawan 3 atau 4 seperti Indonesia itu artinya mesti dia karantina meskipun hasil PCR negatif dan itu harus 7 hari," lanjutnya.

Simak selengkapnya di halaman berikut