Status Awas Merapi Ditandai Letusan Awan Panas
Sabtu, 22 Apr 2006 12:24 WIB
Jakarta - Awan panas atau wedhus gembel. Itulah tanda perubahan status Merapi dari status siaga menjadi status awas. Wedhus gembel ini sangat berbahaya dan pernah terjadi pada letusan Merapi 1994. "Biasanya dari siaga ke awas itu ada letupan. Ada letusan awal yang mengeluarkan awan panas. Tetapi, antisipasi sudah dilakukan sejak awal naik dari normal ke waspada," kata Peneliti Gunung Api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen ESDM Igan S Sutawijaya.Demikian disampaikan Igan di sela-sela seminar bertajuk "Menguak Misteri, Mengurai Sejarah Peradaban Tambora" di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (22/4/2006).Dijelaskan dia, awan panas muncul dari guguran lava, dan naik tidak seimbang, kemudian jatuh karena gravitasi. "Itu wedhus gembel yang ditakutkan seperti letusan 1994 dulu. Awan panasnya yang paling bahaya. Arahnya kemungkinan ke selatan dan barat daya tetapi sudah diantisipasi," ujarnya.Namun demikian, Igan mengaku tidak dapat memprediksi kapan Merapi akan meletus. "Sekarang masih terus dipantau. Kita tidak bisa memprediksi karena itu peristiwa alam. Kapan pun bisa terjadi," jelas Igan.Igan menambahkan pihaknya telah bekerja sama dengan negara lain untuk pengadaan alat digital guna memantau gunung berapi."Kalau kita beli dari APBN, sulit pengadaan alat itu, apalagi yang digital. Semua BMG pakai digital karena canggih. Ketika ada gempa kita tahu di mana pusat gempa. Kalau ada kegiatan gunung berapi kita tahu konsisi kawahnya," urainya.80 Gunung AktifLebih lanjut, Igan menambahkan 80 dari 129 gunung berapi di Indonesia masih aktif. "Beberapa masih waspada dan sudah disiapkan pos pemantauan di sana," kata Igan.
(aan/)











































