Hadapi Era Disrupsi, MPR: Jadi Bangsa Pembelajar Adalah Keniscayaan

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Kamis, 04 Nov 2021 19:32 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan perubahan akibat disrupsi dan pandemi harus dijawab dengan mengubah pola pikir masyarakat agar menjadi bangsa pembelajar. Dengan begitu diharapkan bisa mewujudkan Indonesia emas, adil dan makmur seperti yang dicita-citakan.

"Dengan berbagai perubahan yang terjadi saat ini menjadi bangsa pembelajar adalah sebuah keniscayaan. Generasi muda yang akan menjadi pelaku utama dalam mengisi kemerdekaan harus mampu mewujudkannya dalam menjawab berbagai tantangan di masa datang," kata Rerie, sapaan akrab, dalam keterangannya, Kamis (4/11/2021).

Saat menyampaikan Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Maluku, di Ambon, Provinsi Maluku hari ini dia menjelaskan sumber pembelajaran tidak hanya berasal dari berbagai peristiwa di masa sekarang, tetapi juga bisa didapat dari peristiwa sejarah di masa lalu. Menurut Rerie, disrupsi dan pandemi COVID-19 mengajarkan Indonesia agar siap beradaptasi dalam situasi apa pun. Tentunya dengan berbekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Sementara berbagai peristiwa sejarah di masa lalu dinilainya menjadi contoh bagaimana para pendahulu mampu mengatasi berbagai tantangan berbangsa dengan mengedepankan nilai-nilai luhur yang dipraktikkan, seperti gotong-royong, persatuan, cinta Tanah Air dan mengedepankan keberagaman.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menyebut generasi muda harus mampu mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa tersebut. Hal itu untuk dijadikan bekal dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Rerie pun memperkenalkan metode manajemen Teori U karya Otto Scharmer kepada para mahasiswa. Dia berharap mahasiswa bisa beradaptasi dalam sejumlah proses perubahan. Teori U, menurutnya dapat membantu individu maupun para pemangku kepentingan melakukan transformasi yang mengakar dan mendorong inovasi.

Pada kesempatan itu, dia juga sempat melakukan sesi tanya jawab dengan mahasiswa. Adapun sejumlah pertanyaan yang masuk terkait pembelajaran tatap muka dan upaya mengatasi pengangguran.

Terkait hal tersebut, Rerie mengatakan pembelajaran offline atau tatap muka memang sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Namun, untuk merealisasikannya perlu kesiapan semua pihak agar tidak memicu naiknya kasus COVID-19. Sedangkan untuk mengatasi pengangguran di Ambon, salah satu yang diusulkan Rerie adalah mengedepankan kearifan lokal dalam pengembangan perekonomian daerah.

Sebagai informasi, hadir dalam acara tersebut Drs. Muhammad Saleh Tio, M.Si (Asisten I Pemprov Maluku, mewakili Gubernur Maluku), Drs. Abduk Haji Latua (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku), Dr. Djalaludin Salamoessy, M.Si (Ketua BPH Universitas Muhammadiyah Maluku), Dra. Aisa Manilet, M.Si (Ketua Aisyiah Maluku), Dr. Mohdar Yanlua, M.H. (Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku), seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Maluku dan sejumlah anggota DPRD Maluku dari Fraksi NasDem.

Simak juga 'Puan ke Milenial: Jangan Tenggelam Dalam Disrupsi Teknologi!':

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)