Satgas Ajak Semua Pihak Kerja Sama Dukung Testing di Indonesia

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 04 Nov 2021 11:43 WIB
A medical worker collects a swab sample from a woman during coronavirus testing at a COVID-19 testing center in Ulu Klang, on the outskirts of Kuala Lumpur, Malaysia, Tuesday, May 18, 2021. (AP Photo/Vincent Thian)
Foto: AP/Vincent Thian
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 mengajak semua pihak bekerja sama melawan COVID-19 dengan upaya sebaik-baiknya. Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, semua elemen masyarakat memiliki kontribusi dalam menegakkan kebijakan testing di Indonesia.

"Pada prinsipnya kita semua memiliki tujuan yang sama untuk segera terbebas dari COVID-19. Sehingga untuk itu mari kita bekerja sama," jelasnya dikutip dari laman Satgas COVID-19, Kamis (4/11/2021).

Dia mengungkapkan kerja sama yang baik harus dilakukan berbagai pihak yang berperan. Beberapa pihak tersebut di antaranya, mulai dari laboratorium, produsen alat testing COVID-19 dan masyarakat.

Pertama, kata dia, laboratorium rujukan pemeriksaan COVID-19, baik yang terdaftar dalam www.litbang.kemkes.go.id/laboratoriumpemeriksacovid19, maupun yang tercantum dalam aplikasi PeduliLindungi. Sudah sepatutnya bertanggungjawab menyediakan layanan yang berkualitas.

"Yaitu dengan menggunakan testing kit yang telah terstandar dengan tujuan dapat memberikan hasil yang akurat. Daftar merk testing kit deteksi COVID-19 yang digunakan telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Untuk daftarnya, dapat diakses di infoalkes.kemkes.go.id yang diperbaharui secara berkala per 3 bulan," jelasnya.

Kedua, produsen mampu melakukan monitoring dan evaluasi kualitas testing kit setelah digunakan oleh masyarakat secara berkala. Hal ini diawasi oleh institusi kesehatan seperti Kementerian Kesehatan untuk PCR dan Dinas Kesehatan setempat untuk rapid tes antigen. Agar dipastikan tetap baik akurasinya selama digunakan di masyarakat.

Ketiga, yaitu transparansi dari produsen serta institusi kesehatan yang bertanggungjawab menyampaikan hasil monitoring dan evaluasi alat tes yang telah digunakan kepada publik secara berkala.

Keempat, masyarakat harus memahami bahwa pemberlakuan alternatif syarat perjalanan yaitu PCR atau antigen, serta protokol kesehatan selama perjalanan untuk mobilitas jarak jauh dalam negeri adalah bentuk kehati-hatian pemerintah. Mengingat dibutuhkan akurasi tinggi untuk menghasilkan hasil diagnostik yang tepat.

Untuk itu masyarakat diharapkan cermat memilih jasa penyedia layanan testing, yaitu yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Kesehatan untuk laboratorium PCR dan Pemda setempat untuk penyedia jasa layanan tes antigen.

"Oleh karena itu perlu kedisiplinan dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari masing-masing kita berkontribusi dalam menjalankan kebijakan sistemik ini karena kesuksesan pengendalian COVID-19 ditentukan oleh kita semuanya," lanjutnya.

Untuk itu, agar masyarakat lebih memahami upaya mendeteksi COVID-19, Wiku mengedukasi tentang testing COVID-19 yang digunakan. Secara fungsinya dapat dibagi menjadi dua, yaitu untuk skrining dengan tujuan menyaring kasus positif pada orang tidak bergejala, dan diagnostik untuk orang yang bergejala.

Berdasarkan metodenya terbagi menjadi 3 bagian. Metode pertama ialah tes molekuler. Berfungsi mendeteksi virus COVID-19 melalui material genetik (asam nukleat). Tes ini memiliki nama lain diagnostik test, viral test, molecular test, Nucleic Amplification Test (NAAT), RT-PCR test dan lamp test.

Karakteristiknya, paling sensitif, membutuhkan fasilitas laboratorium, hasil maksimal keluar dalam 1x24 jam dan menggunakan spesimen melalui swav di nasal/orofaring. "Tes molekular ini memiliki sifat paling sensitif mendeteksi sehingga seluruh jenis tes molekular ditetapkan sebagai gold standard," jelasnya.

Selain itu, tes molekuler digunakan untuk memastikan kembali kasus bergejala yang menunjukkan hasil negatif pada uji sebelumnya. Dan mendukung upaya sequencing mendiagnosa kasus positif dengan varian COVID-19.

Metode kedua, tes antigen. Berfungsi mendeteksi COVID-19 melalui bagian luar protein virus (antigen). Nama lain tes metode ini ialah diagnostic test, viral test dan rapid test. Testing ini tidak membutuhkan pemrosesan di laboratorium dan hasilnya dapat diketahui sekitar 15 sampai dengan 30 menit setelah spesimen hasil swab dilakukan. Metode ini cukup unik karena dapat dijadikan sebagai metode skrining maupun diagnostik. Tergantung situasi dan kondisi penggunaannya.

Dalam keadaan kondisi kasus yang tinggi dan keterbatasan fasilitas, rapid tes antigen dapat digunakan sebagai alat diagnostik. Namun dengan catatan alat harus dipastikan memiliki kemampuan deteksi yang tinggi dan mendapatkan rekomendasi oleh badan Kesehatan internasional.

"Saran penggunaan tes antigen ini ialah untuk mendeteksi kasus positif pada kumpulan kasus dalam jumlah yang banyak secara lebih efisien dan memonitoring berkala tren kasus populasi berisiko," lanjutnya.

Metode ketiga, yaitu tes antibodi. Bertujuan mendeteksi terbentuknya antibodi spesifik yang diproduksi tubuh akibat reaksi dengan antigen. Baik karena infeksi alamiah ataupun vaksinasi. Tes ini dapat melihat riwayat penyakit COVID-19 seseorang di masa lampau. WHO tidak merekomendasikan penggunaan alat ini untuk skrining maupun peneguhan diagnosa.

(akd/ega)