Keluarga Aktivis Hilang Gagal Temui Panglima TNI
Jumat, 21 Apr 2006 12:08 WIB
Jakarta - Sejumlah orangtua korban orang hilang gagal menemui Panglima TNI Marsekal Djoko Soeyanto. Mereka datang untuk menagih janji penuntasan kasus hilangnya sejumlah aktivis pro demokrasi tahun 1997-1998.Keluarga korban yang terdiri dari 6 ibu ini didampingi Kontras dan Ikatan Keluarga Korban Orang Hilang (Ikohi) ke Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (21/4/2006) pukul 10.30 WIB.Mereka datang dengan menggunakan 2 unit mikrolet dan kijang ini berniat melakukan audiensi dengan jajaran pimpinan dan Panglima TNI. Sayangnya, semua pimpinan TNI termasuk Panglima TNI tidak berada di tempat.Akhirnya, mereka hanya puas diterima oleh staf Pusat Penerangan Mabes TNI. Pihak Puspen TNI sendiri menjelaskan bahwa Panglima dan pimpinan sedang berada di Batam guna menandatangani kerjasama dengan Malaysia dan Singapura.Karena sudah terlanjur datang, keluarga korban orang hilang ini meminta agar ada penjadwalan ulang bertemu dengan Panglima TNI. Selanjutnya mereka pulang dan akan mendatangi Mabes Angkatan Darat di Jl Veteran, Jakarta Pusat."Kita di dalam hanya meminta penjadwalan, kapan akan bertemu dengan jajaran pimpinan TNI. Karena saat ini tidak ada sama sekali yang bisa menemui kita. Sekarang kita akan mencoba ke Mabes AD," jelas Koordinator Ikohi, Mugiyanto, kepada detikcom.Sementara Koordinator Kontras Usman Hamid mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah menyampaikan surat sejak 12 April lalu untuk beraudiensi. "Tapi sampai sore kemarin belum ada kejelasan kapan diterima," ujarnya.Menurut Usman, keluarga korban bermaksud menagih janji Panglima TNI saat fit and proper test di DPR yang akan menuntaskan penghilangan sejumlah aktivis di Indonesia."Kita hanya meminta kejelasan dan kepastian bagaimana nasib mereka, apakah masih ada yang ditahan atau kalau sudah meninggal kita minta ditunjukkan kuburannya," jelas Usman.Komnas HAM melalui Tim Penyelidik Penghilangan Orang Secara Paksa tahun 1997-1998 telah memintai keterangan sejumlah pihak terkait hilangnya 14 aktivis prodemokrasi, sebelum penguasa Orde Baru Soeharto lengser. Bahkan, mantan Panglima ABRI Wiranto juga pernah mengakui bahwa 14 aktivis tersebut telah lama meninggal dunia.
(zal/)











































