RI Dapat Dukungan Australia, Prancis & Turki untuk Presidensi G20 2022

Erika Dyah - detikNews
Minggu, 31 Okt 2021 17:52 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Foto: Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkap dalam pertemuan bilateral dengan beberapa negara, Indonesia telah mencapai suatu kesepakatan yang baik. Menurutnya, negara-negara ini sangat mendukung Presiden Indonesia dalam G20 tahun 2022 mendatang.

Diketahui, Airlangga saat ini tengah mendampingi Presiden RI Joko Widodo dalam Konferensi Tingkat Tinggi Group of Twenty (KTT G20) di Roma, Italia. Ia menjelaskan dalam pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, dilakukan pembahasan tentang energi dan perubahan iklim. Menurutnya, Australia mendukung kebijakan di sektor energi dan transisi energi yang sudah dijalankan Indonesia yang menyebutkan transisi energi harus diikuti juga oleh pembiayaan dan investasi terkait iklim.

Airlangga menambahkan pembahasan kedua adalah tentang teknologi yang tersedia dan terjangkau. Hal ini juga diharapkan bisa mempercepat (terbentuknya sistem) energi hijau di Indonesia.

Kemudian, Airlangga mengatakan RI-Australia juga membahas terkait Vaccinated Travel Line (VTL). Ia menerangkan, Australia akan merevitalisasi turis dan membolehkan Warga Negara (WN)-nya untuk bepergian ke luar negeri, termasuk ke Indonesia. Terutama untuk WN yang sudah divaksin dua kali (dosis lengkap).

"Indonesia juga menyampaikan bahwa kunjungan dari Luar Negeri ke Indonesia ada aturan soal karantina, dan mereka (Australia) akan ikut aturan tersebut. Mereka akan membuka (kunjungan) untuk orang Indonesia terutama di dua negara bagian yang sudah membuka, yaitu New South Wales dan Victoria. Mereka juga mengharapkan mahasiswa Indonesia bisa kembali belajar di Australia," tutur Airlangga dalam keterangan tertulis, Minggu (31/10/2021).

Selain itu, Indonesia dan Australia juga sepakat persoalan ekonomi digital harus dibahas di Presidensi G20 Indonesia tahun depan. Khususnya, agar kebijakan dan regulasi di sektor itu tidak berbeda dengan sektor konvensional, terutama dari segi platform digital.

"Diharapkan bullying di media sosial akan diatur oleh para platform secara bertanggung jawab dan seimbang," imbuhnya.

Airlangga juga mengungkapkan tentang rencana pembangunan industri Green Hydrogen (Hidrogen Hijau) di Kalimantan Utara pada kawasan seluas 13 ribu hektare.

"Yang sekarang sedang dibahas (investasinya) dengan Fortescue Metals Group (FMG) yang dipimpin oleh Andrew Forest yaitu sebesar 3 ribu hektare, dan itu akan mengintegrasikan antara energi berbasis hydro, lalu investasi di bidang pembangkitan hydrogen economy, dan juga terkait petrokimia kompleks. Diharapkan proyek tersebut akan melakukan penyerapan energi dan pembangkitan listrik yang besar," jelasnya.

Lebih lanjut, Airlangga memaparkan soal pertemuan Indonesia dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Dalam pertemuan ini, ungkapnya, dibahas tentang kerja sama di bidang alat utama sistem senjata (alutsista) yang produksi bersama kedua negara, termasuk mengenai keterlibatan, ketersediaan, maupun konten lokal. Ia menilai, Prancis juga mendukung Indonesia dalam Presidensi G20 tahun 2022.

"Dalam posisi Presiden Prancis yang saat ini juga menjabat sebagai Presiden Uni Eropa (UE) tentu Pak Presiden juga minta adanya akselerasi pembahasan dari Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU CEPA), yang kita harapkan akan meningkatkan ekspor Indonesia ke Eropa dan sebaliknya, jadi 'kue' Indonesia di Eropa bisa meningkat. Diharapkan juga dengan Presidensi Indonesia G20, kita akan mempunyai daya tawar yang tinggi, sehingga diharapkan akan ada manfaat untuk menyelesaikan itu," paparnya.

Ketiga, Airlangga menyebut Indonesia melakukan pertemuan dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang membahas mengenai kerja sama Indonesia-Turki CEPA, khususnya tentang minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia.

Airlangga mengatakan pasar CPO Indonesia yang awalnya besar di Turki, sekarang turun nilainya akibat ada negara tetangga Indonesia yang mempunyai CEPA juga.

"Jadi untuk mengembalikannya, tentu kita perlu mengakselerasi ini. Bapak Presiden menugaskan Menteri Perdagangan menangani CEPA (dengan Turki) tersebut," katanya.

Terakhir mengenai UMKM, Airlangga memaparkan hal ini akan menjadi prioritas Indonesia. Hal ini juga terungkap ketika Presiden Jokowi berpidato pada side event KTT G20 yang membahas soal UMKM dan bisnis milik perempuan.

"Beberapa program inklusif yang sudah dilakukan, baik dalam bentuk Program Mekaar, UMi, KUR, serta onboarding UMKM ke sektor digital yang melibatkan 65 juta UMKM, dan sebagian besar (pengusahanya) adalah perempuan. Misalnya, (Ratu Belanda) Queen Maxima mengambil contoh kegiatan inklusif yang ada di Indonesia salah satunya digitalisasi ojek online, serta PM Italia Mario Draghi yang juga mengapresiasi berbagai program yang disampaikan Presiden," pungkasnya.

(fhs/ega)