Warga Lereng Merapi Tunggu Isyarat dari Mbah Petruk
Kamis, 20 Apr 2006 15:53 WIB
Magelang - Meski Merapi sudah berstatus Siaga, para penambang pasir tradisional dan warga yang tinggal di kawasan lereng barat dan utara Gunung Merapi di Kabupaten Magelang masih melakukan aktivitas seperti biasa. Mereka masih menunggu isyarat dari 'penguasa' Merapi, Mbah Petruk. Para warga sekitar maupun penambang pasir di kawasan itu percaya Merapi tidak lama lagi akan meletus. Namun sebelum meletus, Mbah Petruk dan pengikutnya akan memberikan sinyal atau isyarat lebih dulu."Saat ini, ibaratnya Mbah Petruk maupun utusannya baru memberikan kabar kepada warga sekitar bila mau punya gawe (hajat) besar," kata Martorejo (67), seorang penambang pasir di kawasan aliran Sungai Bebeng Desa Kemiren Kecamatan Srumbung, Magelang kepada detikcom, Kamis (20/4/2006).Mbah Petruk, kata dia, dipercaya oleh warga lereng barat sebagai penguasa atau penunggu Merapi di bagian barat. Dia juga mempunyai pengikut atau anak buah yang tinggal di hutan dan sungai-sungai di Merapi. Menurut dia, situasi Merapi saat ini ibarat Mbah Petruk baru memberikan kabar bila hendak punya hajat besar. Kabar hendak punya hajat itu diwujudkan dengan mulai keluarnya asap terus menerus dan suara gemuruh dari puncak Merapi. Sedang tanda dimulai hajatan itu adalah keluarnya lava pijar dari atas. Nah, tanda ini belum muncul saat ini. Bila lava pijar muncul, berarti hajatan besar itu sudah dimulai yang kemudian diakhiri dengan letusan. Lava pijar inilah yang sering disebut dengan 'wedhus gembel'. "Kalau lelehan sudah ada, berarti Mbah Petruk mulai tata dandang (periuk nasi dari tembaga) sebagai tanda dimulai gawe (hajatan)," katanya.Menurut Rejo, panggilan akrabnya, bila Merapi akan meletus, di sekitar gunung akan muncul sebuah isyarat yakni munculnya benang lawe warna merah yang menjuntai ke atas di tubuh gunung. Sedang isyarat lainnya adalah suara gamelan yang bertalu-talu serta suasana yang ramai. Namun ketika hendak dicari arah suaranya tidak akan ketemu. "Saat ini belum ada yang lihat atau mendengar suara itu. Seperti tahun 1994 itu beberapa hari sebelumnya ada kejadian seperti itu," kata Rejo yang sudah berkali-kali mengalami Merapi meletus itu.Bagi Rejo, meletusnya Merapi sebenarnya juga merupakan berkah bagi para penambang pasir. "Bila di atas sudah turun hujan, pasir juga akan turun. Itu juga berkah bagi kami," katanya.Ketika tanya apakah dirinya dan masyarakat akan mematuhi peringatan dari pemerintah, dia mengatakan akan mematuhinya dengan tidak mencari pasir hingga malam hari. Bahkan keluarganya di rumah sudah menyiapkan diri dengan mengepak pakaian dan beberapa harta benda berharga bila sewaktu-waktu diminta mengungsi. "Sekarang saya dan teman-teman sudah tidak tidur di gubuk-gubuk di pinggir sungai. Kalau sore sudah selesai langsung pulang dan besok kembali lagi cari pasir," kata dia.
(asy/)











































