Antonia Soriente, Pejuang Bahasa Indonesia di Negeri Pizza

Sudrajat - detikNews
Sabtu, 30 Okt 2021 08:29 WIB
Dosen bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Orientale, Napoli-Italia
Prof Antonia Soriente (Foto: Tangkapan Layar Komunitas Bintang)
Jakarta -

Dibandingkan dengan bahasa China, Jepang, dan Arab, Bahasa Indonesia masih belum banyak menarik minat orang Italia untuk mempelajarinya. Menyadari hal itu, sejak 2009 Prof Antonia Soriente merintis pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di almamaternya, Universitas Orientale, Napoli-Italia sejak 2009.

Salah satu trik yang diterapkannya antara lain 'mewajibkan' mahasiswa yang ingin mendalami bahasa-bahasa di Asia untuk juga mempelajari bahasa Indonesia. Apalagi mereka yang mengambil kajian Asia Tenggara atau Melayu, otomatis harus juga mendalami bahasa Indonesia.

"Saya mengembangkan studi Indonesia dan Asia Tenggara. Kalau mau paham Asia Tenggara dan Melayu, ya mesti kuasai Bahasa Indonesia. Sekarang sudah ada mahasiswa yang lulus mempelajari naskah Batak, dan ada mahasiswa doktoral bidang etnografi dan arkeologi terkait pembuatan kapal tradisional di Sulawesi (Phinisi)," papar Prof Antonia Soriente dalam webinar bertajuk "Bahasa Indonesia sebagai Alat Diplomasi".

Acara yang diprakarsai Komunitas Bintang (para isteri diplomat Kementerian Luar Negeri) itu juga turut menampilkan Betsy Philips dan Maria Rosarioningrum yang masing-masing telah puluhan tahun mengajar bahasa Indonesia untuk para diplomat Australia dan Amerika Serikat.

Untuk tahun ini, Antonia melanjutkan, ia tengah membimbing mahasiswa doktoral yang mempelajari tentang perilaku bahasa keturunan Hadramaut di Indonesia. Dia juga menggunakan semua peluang yang ada agar mahasiswa Italia bisa berangkat dengan beasiswa untuk belajar di Indonesia. Setiap tahun, kata dia, ada 6-8 orang Italia yang belajar ke berbagai universitas di Indonesia. Upaya memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia juga dilakukan dengan mengundang berbagai kalangan untuk mencicipi kuliner Indonesia.

Antonia yang meraih master linguistik dari UI doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia telah menerjemahkan sejumlah karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Italia, seperti novel Saman karya Ayu Utami dan Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani. Atas semua dedikasinya itu Antonia pernah menerima penghargaan Tokoh Pegiat Diplomasi Kebahasaan dari Kemendikbud Ristek pada 2019.

Sementara itu, Betsy dan Maria lebih banyak memaparkan pengalaman mereka memperkenalkan dan mengajar Bahasa Indonesia untuk para calon diplomat yang akan berdinas di Jakarta. Australia dan Amerika mewajibkan para calon diplomatnya untuk belajar selama sembilan bulan. "Lima hari dalam sepekan, dan empat jam setiap harinya. Itu akan ditambah pekerjaan rumah dengan bobot empat jam pelajaran," kata Betsy yang telah 33 tahun mengajar.

Sejak bertahun-tahun lalu, sebagai negara tetangga terdekat lembaga pendidikan mulai sekolah dasar di Australia mengajarkan Bahasa Indonesia. Hanya saja kini kecenderungan minat itu kian menurun, sehingga di beberapa perguruan tinggi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dihapus dari kurikulum mereka.

"Mungkin karena melihat sudah banyak orang Indonesia yang pandai berbahasa Inggris sehingga orang Australia tidak merasa perlu lagi bersusah payah belajar Bahasa Indonesia," ujar Betsy.

Simak juga 'Momen Akrab Sri Mulyani dan Retno Ngeteh di Roma Italia Jelang KTT G20':

[Gambas:Video 20detik]



(jat/jat)