Letusan Merapi 55 Tahun Lalu dalam Ingatan Hwie
Kamis, 20 Apr 2006 10:36 WIB
Jakarta - Makin aktifnya gunung Merapi -- berada di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah -- saat ini, mengingatkan seorang warga Indonesia di AS tentang letusan Merapi 55 tahun lalu. "Saya melihat awan penuh dengan debu dan abu, seperti saat ibuku memasak dengan anglo".Itulah kenangan Siauw Ing Hwie, warga Indonesia yang kini menetap di Northridge, California, tentang kejadian yang dialaminya 55 tahun lalu, saat Merapi meletus. Kenangan letusan Merapi itu terus membekas di ingatannya, meski saat itu dia baru berumur 5 tahun.Dalam tulisannya yang dikirimkan kepada detikcom, Kamis (20/4/2006), Hwie mengaku tidak ingat seluruh kisah yang dialaminya. Yang jelas, saat Merapi meletus, debu dan abu tebal yang keluar dari perut Merapi itu terbang hingga Solo.55 Tahun lalu, Hwie tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah di Jl. Mertokusuman, Solo. Ketika Merapi meletus, saat itu Hwie sedang belajar di TK di sekolah Susteran di Jl. Gabelan, dekat gereja Katolik, samping Sungai Kretek Gantung, dekat Pasar Besar. "Saya kira tempat sekolah itu di dekat Kantor Walikota Solo," tulis Hwie.Tepat sepulang sekolah, abu Merapi menghujani Solo. Udara tertutup debu. "Saat itu saya dijemput kakak saya. Saya diboncengkan di sadel belakang sepeda kakak saya. Sepeda itu dikayuh dengan cepat oleh kakak saya menuju ke rumah, sementara debu sudah sangat tebal," kata Hwie.Memang cukup mengerikan. Sesampai di rumah, atap rumah Hwie sudah berubah menjadi abu-abu karena dipenuhi debu. "Saat itu, saya belum paham. Saat itu saya tidak merasakan adanya gempa atau semacamnya seperti yang saya rasakan di Northridge tahun 1994 lalu. Saya di Northridge tinggal di pusat gempa," kenang Hwie.Debu dan abu itu sungguh tebal. "Saya melihat awan dan penuh dengan debu dan abu seperti ketika ibuku memasak dengan anglo," tulis Hwie yang mengaku selalu membuka www.detik.com dan sangat senang membuka situs www.detikfood.com.Hwie, meninggalkan Solo menuju AS pada 1975. Di Solo, dia pernah juga sekolah di SMA Saint Joseph di Manahan hingga lulus. "Dulu saya dikenali siswa-siswa lainnya sebagai pemain basket," aku Hwie. Setelah pergi ke AS, Hwie tidak pernah kembali ke Indonesia lagi."Saya tidak tahu bagaimana kondisi Jl. Mertokusuman lagi. Saya rindu Solo, nasi liwet, tenongan dan cabuk rambal," ujar Hwie yang mengaku sudah tidak mengetahui perkembangan bahasa Indonesia ini.Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com.
(asy/)











































