Sekelompok Pria Bertopeng 'V for Vendetta' Datangi Kemenag

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 18:18 WIB
Sekelompok orang datangi Kemenag (Tiara-detikcom)
Sekelompok orang datangi Kemenag (Tiara/detikcom)

Penjelasan Yaqut soal 'Kemenag Hadiah untuk NU'

Yaqut Cholil Qoumas angkat bicara terkait pernyataan kontroversialnya soal 'Kemenag hadiah untuk NU'. Ada tiga poin penting yang dia sampaikan.

Ditemui setelah membuka Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2021 di The Sunan Hotel, Solo, Gus Yaqut menyebut poin pertama adalah pernyataan tersebut disampaikan dalam forum internal.

"Saya jelasin sekali tapi jangan ada yang nanya lagi. Pertama, saya sampaikan di forum internal untuk menyemangati para santri dan pondok pesantren. Itu sama kira-kira ketika kalian semua dengan pasangannya masing-masing melihat rembulan di malam hari bilang 'Dik, dunia ini milik kita berdua, yang lain cuma ngekos', apakah salah itu? Itu karena internal," kata Yaqut di Solo, Senin (25/10).

Kemudian, di poin kedua, Menag Yaqut menegaskan tidak ada kebijakan Kemenag yang dibuat hanya untuk NU. Dia menyebut sejumlah pejabat Kemenag berasal dari berbagai organisasi Islam.

"Sekarang bisa dibuktikan klausul kedua, kita lihat, apakah ada kebijakan Kemenag yang diperuntukkan untuk NU saja? Tidak. Afirmasi semua agama kita berikan hak secara proporsional terhadap kementerian agama," ujar dia.

"Bukan hanya itu, ormas tidak hanya NU saja. Cek coba sekarang, cek Dirjen PHU, Dirjen Haji dan Umroh itu kader Muhammadiyah, jangan salah. Dan itu biasa buat kami. Irjen Kemenag, bukan NU, dan itu biasa. Memberi semangat itu wajar. Itu internal," imbuhnya.

Pada poin ketiga, Yaqut menjelaskan bahwa NU memiliki sifat dasar terbuka dan memberikan maslahat untuk kepentingan yang lebih besar. Namun dia heran pernyataannya di forum internal justru digoreng ke publik.

"Dan memang saya nggak tahu kok digoreng-goreng di publik bagaimana. Itu forum internal konteksnya menyemangati. Yang ketiga saya mau tekankan, bahwa NU harus kembali ke jati dirinya meskipun NU ini diberikan sesuatu. NU harus tetap terbuka, tetap inklusif, NU harus tetap memberikan dirinya untuk kepentingan yang lebih besar, maslahat yang lebih besar, bukan semuanya untuk NU, karena itu sifat dasar NU. Itu sebenarnya tujuannya, kemudian digoreng-goreng," pungkasnya.


(haf/fjp)