Gubsu Edy: Jalan di Sumut Terpanjang di Dunia, tapi 60% Rusak

Ahmad Arfah - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 13:11 WIB
Gubernur Sumut (Gubsu) Edy Rahmayadi saat Acara Sosialisasi oleh Kemenhub di Medan. (Ahmad Arfah/detikcom)
Gubernur Sumut (Gubsu) Edy Rahmayadi saat Acara Sosialisasi oleh Kemenhub di Medan. (Ahmad Arfah/detikcom)
Jakarta -

Gubernur Sumut (Gubsu) Edy Rahmayadi menyebut jalan yang ada di Provinsi Sumatera Utara merupakan jalan terpanjang di dunia. Namun sayangnya, 60% dari jalan tersebut rusak.

"Jalan terpanjang di dunia setingkat provinsi, panjangnya 3.005 kilometer, terpanjang. Jawa Timur aja 1.700 kilometer. Sumatera Utara ini 3.005 kilometer, dan 60 persen jalannya rusak semua," kata Edy saat acara sosialisasi yang dilaksanakan Kemenhub di MICC, Medan, Kamis (28/10/2021).

Edy mengatakan perbaikan jalan ini terkendala anggaran yang terbatas. Anggaran yang ada, kata Edy, hanya cukup memperbaiki 30 km jalan setiap tahun.

"Uangnya hanya Rp 300-400 miliar setiap tahun, dia hanya mampu 30 kilometer," ujarnya.

Karena keterbatasan anggaran itu, Edy mengaku tidak mengetahui kapan pembangunan jalan itu dilakukan.

"Saya tidak tahu kapan menyelesaikan yang 3.000 km itu," tuturnya.

Edy kemudian berbicara terkait jalan baru antara Kota Medan dan Kabupaten Karo. Edy mengatakan jika dibuka jalan baru maka ekonomi akan semakin meningkat.

"Saudara-saudara saya, pendapatan daerah Sumatera Utara sangat dominan untuk APBN. Jadi kalau dibuka jalan ini dari Berastagi yang di situ lumbung, ini akan mengecilkan cost. Kalau sudah kecil cost, akan memakmurkan rakyat khususnya petani di Tanah Karo," ujarnya.

Untuk itu, Edy meminta Kementerian Perhubungan membantu pengadaan jalan ini. Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, yang berada di lokasi, mengatakan jalan lintas Medan ke Karo itu memang sudah jadi prioritas.

"Jadi untuk manajemen di jalan Berastagi sudah kita rancang jauh-jauh hari. Kita sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, jalan itu kan sebagai jalan penghubung ke Danau Toba, juga selalu mengalami hambatan, sehingga itu menjadi prioritas kita kedua setelah jalur puncak," kata Budi.

(eva/eva)