Epidemiolog Ingatkan Jakarta agar Berkaca dari Kasus Inggris

Deden Gunawan - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 07:29 WIB
Jakarta -

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengkritik langkah Pemprov DKI membuka transportasi publik dengan kapasitas angkut 100 persen. Idealnya hal itu dilakukan secara bertahap dengan kapasitas maksimal 70 persen dahulu.

"Terlalu cepat melakukan pelonggaran itu berbahaya. Jangan terlalu percaya diri seolah dengan vaksinasi di atas 80 persen atau mencapai di atas 90 persen kondisi penyebaran COVID aman terkendali," kata Dicky dalam program Blak-blakan di detikcom, Rabu (27/10/2021).

Dia merujuk negara yang menggunakan vaksin Moderna secara penuh sekalipun, pelonggaran yang terlalu cepat bisa memicu euforia warga sehingga kasus COVID meledak lagi. "Itu yang terjadi di Inggris, sehingga Jakarta harus belajar dari kasus di sana," tegasnya.

Bagaimanapun, Dicky melanjutkan, Jakarta sebagai kota metropolitan, mobilitas dan interaksi warganya sangat tinggi. Mereka juga berinteraksi dengan warga dari daerah sekitar, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yang mungkin tingkat vaksinasinya masih belum sebaik di Jakarta.

"Jakarta bukan cuma Jabodetabek, tapi juga provinsi lain. Jakarta ini kan jadi hub. Jadi sebaiknya tidak langsung 100 persen. PPKM bertingkat yang sudah sangat baik itu harus dijaga, dipertahankan," ujar Dicky Budiman.

Ketentuan jumlah penumpang 100 persen tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1245 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 2 COVID-19. PPKM di Ibu Kota turun dari level 3 menjadi 2 sejak 19 Oktober sampai 1 November 2021.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan penetapan 100 persen kapasitas penumpang transportasi publik didasari atas beberapa pertimbangan. Pertama, untuk meningkatkan ekonomi. Kedua, mobilitas orang mulai tinggi, sehingga butuh transportasi umum.

Selain itu, menurut Riza, penularan virus Corona di Jakarta melandai. Penambahan kasus per harinya rata-rata 100-200. Tingkat keterisian tempat tidur isolasi hanya 7 persen dan ICU 18 persen. Data ini dihimpun per 20 Oktober 2021.

Sementara itu, di Inggris, kasus COVID-19 meledak lagi kendati cakupan vaksinasi telah melebihi 70 persen jumlah penduduk. Hal ini terjadi seiring kebijakan pemerintah yang melonggarkan berbagai aktivitas di ruang publik. Lonjakan kasus juga terjadi di Rusia dan Israel.

(jat/jat)