Keluarga Minta Upacara Sudhi Wadani Sukmawati Masuk Hindu Tak Dipolitisasi

Sui Suadnyana - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 15:36 WIB
Denpasar -

Keluarga Sukmawati Soekarnoputri dari Dadia Pasek Baleagung Buleleng meminta agar upacara Sudhi Wadani Sukmawati masuk agama Hindu tidak dipolitisasi. Prosesi ritual Sukmawati masuk Agama Hindu bukan ajang politik.

"Atas nama seluruh panitia, kami memohon kepada hadirin untuk menjaga bersama-sama pelaksanaan Sudhi Wadani, bahwa upacara ini sepenuhnya adalah upacara keagamaan di pelataran (wilayah) Dadia Pasek Tatar Baleagung," demikian keterangan tertulis yang dikutip detikcom seizin Jero Mangku Dadia Pasek Baleagung Buleleng, Gde Made Swardhana, Rabu (27/10/2021).

"Untuk itu sekali lagi mohon agar kegiatan upacara ini tidak dipolitisasi, tidak dipolitisir atau memberikan keterangan-keterangan yang tidak dipahami terkait upacara ini," pinta Swardhana.

Menurut Swardhana, upacara Sudhi Wadani ini bukanlah ajang politik. Jika mau berpolitik, dia meminta untuk tidak dilaksanakan di wilayah Dadia Pasek Baleagung Buleleng.

Swardhana menuturkan sejarah mencatat bahwa Sukarno adalah putra Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ni Nyoman Rai Srimben, yang berasal dari Baleagung Buleleng. Salah satu cucunya, yakni Sukmawati Soekarnoputri, melaksanakan Sudhi Wadani.

Upacara ini dipuput oleh para sulinggih Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Sattwikanada dan Ida Pandita Mpu Satya Diwjananda. Sebelum upacara Sudhi Wadani dilangsungkan, keluarga Dadia Pasek Baleagung Buleleng terlebih dahulu mengawali dengan upacara negem dewasa sekaligus pecaruan dan menghias beberapa tempat upacara.

Kemudian pada Senin (25/10) sore dilangsungkan upacara melukat atau mebersih di Pantai Lovina. Kemudian pada puncak acara, Selasa (26/10) setelah prosesi Sudhi Wadani, dilakukan prosesi upacara tiga bulanan, potong gigi, natab dan baru ke merajan (pura), kawitan, dan pura desa.

"Upacara ini secara langsung memilik keterkaitan erat dengan Ibu Sukmawati sebagai tempat kelahiran Eyang Putri Ni Nyoman Rai Srimben. Kalau boleh disebut bahwa Ibu Sukma 'mulih deha' ke rumah neneknya," terang Swardhana.

(nvl/nvl)