Anak Pedalaman di Riau Tidak Kenal SBY-JK

Anak Pedalaman di Riau Tidak Kenal SBY-JK

- detikNews
Rabu, 19 Apr 2006 18:28 WIB
Anak Pedalaman di Riau Tidak Kenal SBY-JK
Pekanbaru - Sebuah sanggar belajar suku pedalaman di Riau (Talang Mamak) yang berada di tengah-tengah Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) terpampang gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Namun, tak satu pun muridnya mengenali foto itu. Duh!Walau negara ini sudah merdeka lebih dari 50 tahun, tapi akses informasi masih tersendat bagi penduduk pedalaman nan jauh di kawasan hutan belantara TNBT. Di tengah TNBT itu, ada Dusun Tuo Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Di sana ada 60 KK komunitas suku Talang Mamak yang masih primitif dan tidak memiliki agama. Para wanita di sana tidak menggunakan bra, terkecuali hanya selembar kain penutup dari bagian pusar sampai ke betisnya. Dipastikan, tidak satu orang pun yang mengenyam pendidikan. Mereka hidup bergantung pada pertanian dan hasil hutan. Tercatat ada 45 anak-anak yang butuh pendidikan formal. Sayangnya, sebuah kawasan Taman Nasional, memang tidak dibenarkan adanya bangunan permanen fasilitas sosial dan pendidikan. Jalan satu-satunya, NGO, Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS) enam bulan silam membangun sanggar pendidikan buat anak-anak suku pedalaman ini. Sanggar itu terbuat dinding bambu beratapkan rumbia dan terpal plastik. Sudah tiga bulan ini ditinggalkan gurunya. Kabarnya, sang guru tidak sanggup hidup di dalam kawasan hutan dengan gaji yang ala kadarnya. "Pak guru kami sudah balik ke rumahnya. Kata pak guru, kita libur 5 bulan," tutur Sitor (9) salah seorang muridnya. Di rongsokan sekolah yang kini halamannya dipenuhi rerumputan itu, masih terpampang gambar Presiden SBY dan Wapres JK. Foto SBY yang tersenyum manis itu tersangkut di dinding bambu pada bagian depan kelas. Namun di ruangan itu tidak terlihat lagi papan tulisnya. Beberapa murid sekolah itu menyempatkan diri melihat ruang kelasnya ketika detikcom bersama kru Konsorsium Taman Nasional mengabadikan lewat kamera, Senin (17/4/2006) lalu. Ketika murid-murid itu ditanya siapa gerangan sang foto tersebut, semuanya geleng kepala. "Kami tidak tahu gambar siapa itu," tutur Sitor. Sitor dan teman-temannya sama sekali tidak mengenal kedua gambar tersebut. Pun ketika diberitahu bahwa gambar itu adalah presiden, anak-anak ini bertambah bingung. "Presiden siapo, kami tak konal do presiden tu. Siapa itu bang," kata Sitor polos dengan kental dialek Melayunya. Wajar saja, bila murid-murid sekolah nonformal ini tidak mengenal siapa presidennya. Sebab, sekolah itu sendiri baru hadir enam bulan silam. Artinya, sejak bangsa ini merdeka, tidak satu sekolah pun berada di Dusun Datai tersebut. Walau tidak mengenal presidennya, namun murid-murid ini tetap mengenal wajah bupati mereka. Sebuah gambar di kaos oblong warna putih eks pembagian pilkada tahun lalu terjemur di rumah penduduk. Ketika gambar itu ditunjukan pada anak-anak yang masih lugu itu, mereka mengenalnya. "Itu gambar Pak Thamsir, bupati kami bang. Dia tuh raja muda kami," kata Sitor. Kepala adat di kelompok Talang Mamak di dusun Datai, Sidam Katak (70) berharap, pemerintah bersedia memberikan fasilitas pendidikan sebagaimana lazimnya masyarakat yang tinggal di luar taman nasional. "Tolonglah pemerintah memberikan pendidikan buat anak-anak kami. Sampai saya sudah punya cucu, baru inilah ada sanggar sekolah. Itu pun kini gurunya sudah balek kampung," kata Katak dengan polosnya. (asy/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait