Sultan Perkirakan Merapi Meletus 10 Hari Lagi

Sultan Perkirakan Merapi Meletus 10 Hari Lagi

- detikNews
Rabu, 19 Apr 2006 18:25 WIB
Yogyakarta - Raja Kraton Yogyakarta yang juga Gubernur Provinsi DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memperkirakan Gunung Merapi meletus dalam waktu 10-14 hari. Alasannya, kubah Merapi setiap hari terus menggembung sekitar 3 centimeter akibat kuatnya desakan magma ke atas.Hal itu dikatakan Sultan saat menjawab pertanyaan wartawan di kantor Gedhong Wilis, Kepatihan, Rabu (19/4/2006)."Jadi begini ya, penjelasan dari vulkanologi itu kan sudah naik statusnya. Grafiknya juga naik. Tapi kita tidak tahu kapan puncaknya meletus," katanya. Karena sudah naik, lanjut Sultan, hal itu dianggap sudah sangat kritis. Sebab setiap hari kubah lava melar 3 centimeter. "Jadi diperkirakan antara 10 sampai dua minggu ini siapa tahu akan meletus," katanya.Karena dalam waktu dekat ini akan meletus, dia memikirkan langkah-langkah untuk evakuasi penduduk yang punya jarak 5 kilometer dari puncak. Evakuasi itu kalau bisa dilakukan dalam waktu singkat atau dalam waktu 10 hari sampai 2 minggu ini, warga sudah turun. "Karena itu yang paling bahaya. Jarak 5 km itu dekat sekali. Hanya dalam waktu 10 menit, material letusan Merapi bisa sampai ke tempat tinggal mereka," kata suami GKR Hemas itu.Sultan mengatakan, perkiraan yang disampaikan itu berdasarkan pada kondisi yang ada dan penjelasan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK). Karena ada kemungkinan meletus itu, sebagai gubernur dia berkewajiban mengamankan masyarakat beserta harta bendanya."Saya kan punya kewajiban ngamankan masyarakat termasuk asetnya, embuh sapi embuh kambing. Nah kalau meletus, bleng, gek ngungsi. Hanya perlu waktu 10 menit yang jarak pedukuhannya hanya 5 kilometer dari puncak Merapi. Itu risikonya besar," tegas Sultan. Itu pun, kata Sultan, dengan catatan kalau bisa menyelamatkan diri dan berhasil menyelamatkan ternak sapi dan harta bendanya. Namun kalau tidak berhasil, berarti akan kembali seperti tahun sebelumnya dan harus membangun lagi dari awal."Kalau soal pekerjaan kan tidak ada hambatan. Tapi kalau kambing atau sapinya hilang kan repot. Tapi kalau ternaknya sudah diturunkan, kalau terjadi sesuatu, mereka masih mungkin lari. Kan tinggal dirinya saja yang lari, tidak sambil menuntun sapi, gitu lho," jelas Sultan.Ketika ditanya adanya warga desa yang belum bersedia mengungsi karena belum dapat firasat dari tokoh masyarakat setempat, Sultan mengakui hal itu memang jadi kendala yang dihadapi Pemkab Sleman. "Saya tetap punya kewajiban menyelamatkan masyarakat dengan evakuasi itu. Perkara mau atau tidak kan urusannya mereka. Tapi kalau kemudian meletus saya baru ngomong, nanti malah disalahkan. Bagi saya, ini kan sudah pada puncak kondisi Merapi yang kritis. Hanya kita tidak bisa memprediksi meletusnya," katanya.Dia mengharapkan Pemkab Sleman terus melakukan sosialisasi mengenai kemungkinan akan terjadinya letusan Merapi sehingga warga bersedia mengungsi. Saat ini tempat pengungsian sudah disiapkan oleh kabupaten di empat kecamatan, yakni Turi, Tempel, Pakem dan Cangkringan."Harapan saya, mereka mau mengungsi secepatnya. Perkara pagi sampai sore mereka bekerja diatas, karena punya kebun ya silakan. Tapi kalau malam, ya tidur di bawah, begitu," demikian Sultan. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads