Sukmawati Jalani Ritual Pindah Agama Hindu di Pantai Bali Besok

Sui Suadnyana - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 13:21 WIB
Potret Sukmawati Soekarnoputri sempat mengikuti ritual Agama Hindu (Dok. Arya Wedakarna)
Potret Sukmawati Soekarnoputri sempat mengikuti ritual agama Hindu. (Dok. Arya Wedakarna)
Buleleng -

Putri Presiden pertama RI, Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri, yang pindah agama, akan menjalani ritual penglukatan atau pembersihan diri. Ritual itu dilakukan di Pantai Lovina di Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali.

"Prosesnya hanya di segara (laut), di segara Lovina," kata Kelian (Ketua) Dadia Pasek Baleagung Buleleng Nyoman Suadnyana Pasek saat dihubungi detikcom, Senin (25/10/2021).

Menurut Suadnyana Pasek, ritual panglukatan ini dilakukan sebagai makna pembersihan diri, baik secara jasmani maupun rohani, terhadap Sukmawati Soekarnoputri. Ritual ini dilakukan sebelum acara utama Sudhi Wadani, yang dilakukan pada Selasa (26/10).

Hingga saat ini, kata Suadnyana Pasek, ritual panglukatan tersebut belum dimulai. Pihaknya masih melakukan konfirmasi kepada pandita atau pendeta yang memimpin ritual tersebut.

Nantinya, dalam prosesi ini, Sukmawati Soekarnoputri bakal berangkat dari Dadia Pasek Baleagung Buleleng ke Pantai Lovina. Namun hingga saat ini Sukmawati Soekarnoputri belum berada di Dadia Pasek Baleagung Buleleng.

"Belum, acara belum mulai. Untuk acaranya sendiri kita masih konfirmasi sareng ida pandita juga. (Sukmawati Soekarnoputri) belum (ada di sini). Mungkin masih dalam perjalanan," jelasnya.

Sebelumnya, Panglingsir Dadia Pasek Baleagung Buleleng Made Hardika bakal menjalani sejumlah prosesi ritual saat upacara Sudhi Wadani. Ritual itu sudah dilakukan mulai Senin (25/10) dan dilanjutkan pada ritual utama keesokan harinya.

Sebelum Senin (25/10), tidak ada ritual apa pun yang dilakukan, hanya ada berbagai persiapan yang dilakukan oleh pihak keluarga di Dadia Pasek Baleagung Singaraja.

Pada Senin (25/10), Sukmawati Soekarnoputri bakal mengikuti prosesi pembersihan diri (panglukatan) terlebih dahulu. Setelah itu, dilakukan dengan ritual medengen-dengen, yang juga bermakna pembersihan.

"Jadi pertama tanggal 25, itu dia harus mengikuti pembersihan dulu, panglukatan. Setelah panglukatan wenten (ada) medengen-dengen dan besoknya baru ada (ritual) metatah di Bale Agung (Singaraja) tanggal 26-nya. Lanjut dah tanggal 26 itu Sudhi Wadani," jelas Hardika saat dihubungi detikcom, Sabtu (23/10/2021).

Upacara inti Sudhi Wadani yang dijalani Sukmawati Soekarnoputri dilakukan di merajan (pura). Dalam prosesi itu juga dilakukan penandatanganan surat yang disaksikan oleh berbagai pihak, terutama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

"Itu (Sudhi Wadani) ring (di) merajan dan penandatanganan disaksikan (atau) upasaksi dari Parisada (Hindu Dharma Indonesia), dari agama dan dipuput oleh pinandita-pinandita yang sudah ditunjuk pandita-nya. Selesai Sudhi Wadani, selesai sudah acaranya, kenten (begitu)," jelas Hardika.

Simak juga 'Saat Blak-blakan dengan Sukmawati':

[Gambas:Video 20detik]



(nvl/idh)