Unik! di Grobogan Ada Sumur Penghasil Garam, Ada Sejak Zaman Belanda

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 23 Okt 2021 12:45 WIB
Jika biasanya garam diolah dari air laut, warga Desa Jono, Grobogan, Jawa Tengah, justru mengolah garam dari air sumur yang jauh dari laut. Penasaran?
Foto: Antara Foto/Yusuf Nugroho
Grobogan -

Ada yang unik dari Desa Jono di Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Saat mengunjungi desa ini, Anda akan disambut jejeran bilah bambu berisi air garam yang sedang dijemur.

Desa Jono sejak dulu memang telah terkenal sebagai penghasil garam di Grobogan. Uniknya, mereka tak mengandalkan air dari laut, melainkan air dari sumur yang asin. Konon, tradisi bertani garam ini pun telah ada sejak lama dan diwariskan turun temurun ke generasi selanjutnya.

Seorang Petani Garam Jono, Kuswati (42) mengatakan tradisi membuat garam telah dilakukan sejak zaman Belanda. Namun, sayangnya saat ini sudah banyak warga yang beralih profesi sehingga ladang garam Jono pun menjadi berkurang.

"Kalau ini sudah lama dari saya kecil, dari zaman Kolonial Belanda sudah ada. Dari tahun 1950-an kalau nggak salah. Saya belum lahir juga sudah ada. Sebelumnya dari nenek-nenek moyang yang dulu. Ini dulu banyak sekali yang jadi petani garam, tapi sekarang kebanyakan sudah jadi rumah. Anak-anak muda juga jarang yang mau jadi petani garam," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Kuswati menyebut garam Jono berbeda dari garam lainnya karena dihasilkan dari sumur panas yang letaknya tak jauh dari area penjemuran. Ia mengatakan sumur-sumur tersebut juga telah ada sejak zaman dahulu.

Air sumur biasanya dialirkan menggunakan paralon dan ditampung di kolam terlebih dahulu. Selanjutnya, dilakukan proses kristalisasi dengan meletakkan air yang telah dingin di bilah bambu untuk kemudian dijemur.

"Itu sumbernya di sumur sana sudah ada sejak zaman dulu. Nanti (airnya) dialirkan ke (kolam) sini pakai paralon. Kalau sudah dingin (airnya) baru dipindah ke sini (bambu) karena itu kan airnya panas. Dijemurnya 10-15 hari," katanya.

Kuswati menyebut proses penjemuran biasanya berlangsung sekitar 10-15 hari. Jika cerah, garam Jono bisa dipanen dalam waktu 10 hari saja. Saat hujan dan malam hari, para petani biasanya menutup bilah bambu dengan menggunakan terpal atau menyimpannya di dalam gubuk.

Jika biasanya garam diolah dari air laut, warga Desa Jono, Grobogan, Jawa Tengah, justru mengolah garam dari air sumur yang jauh dari laut. Penasaran?Jika biasanya garam diolah dari air laut, warga Desa Jono, Grobogan, Jawa Tengah, justru mengolah garam dari air sumur yang jauh dari laut. Penasaran? Foto: Antara Foto/Yusuf Nugroho

Dalam satu kali panen, Kuswati mengatakan bisa mendapatkan hingga 100 kg garam. Tak hanya garam, dari proses ini para petani juga menghasilkan bleng, yakni air bekas proses penjemuran garam Jono.

"Dijemurnya 10-15 hari. Sekali panen itu paling sedikit 50 kg, kalau banyak 1 kwintal tergantung panjang bambu, terus bambunya kalau bagus hasilnya bisa banyak. Ini punya saya sekitar 50 meter. Kalau musim hujan paling dapet 10 kilo, cuma dapet airnya yang banyak," katanya.

"Kalau hujan, udah sore ditutup terpal. Tapi, kalau dulu saya masih sore masukkin ke sini (gubuk), kalau pagi baru dikeluarin (dijemur) lagi. Tapi jaman saya sekarang kan nggak mau capek cari yang enak. Jadinya sekarang ditutupin pake terpal, jadi nggak diangkat-angkat," lanjutnya.

Kuswati mengatakan bisa menghasilkan Rp 500 ribu dari satu kali panen dan Rp 300 ribu dari penjualan air bleng.

"Ini biasanya di pasar jualnya per kilo sekitar Rp 10 ribu. Tapi kalau lagi kemarau jadi Rp 5 ribu karena produksinya banyak. Tapi pernah banyak yang beli ambil sendiri dari Yogya, Blora. Sebulan biasanya dua kali panen, jualannya kadang Rp 500 ribu sekali panen tergantung hasil panen. Kalau airnya 4 dirigen itu sekitar 80-100 liter, satu liternya Rp 3 ribu," katanya.

Soal modal, Kuswati biasanya mengeluarkan Rp 2,5 juta untuk membeli 50 bambu. Bambu yang digunakan berjenis petung yang memang memiliki kualitas bagus dan tahan lama.

Jika biasanya garam diolah dari air laut, warga Desa Jono, Grobogan, Jawa Tengah, justru mengolah garam dari air sumur yang jauh dari laut. Penasaran?Jika biasanya garam diolah dari air laut, warga Desa Jono, Grobogan, Jawa Tengah, justru mengolah garam dari air sumur yang jauh dari laut. Penasaran? Foto: Antara Foto/Yusuf Nugroho

"Bambunya bisa tahan satu tahun, ya paling lama 2 tahun. Tapi harus diganti setahun sekali. Modal awal butuh 50 biji, satu bijinya Rp 50 ribu. Ini pakai bambu petung karena bambunya nggak cepet rusak, hasilnya juga beda. Modalnya ya itu beli bambu, beli terpal," katanya.

Di musim kemarau panjang, Kuswati terkadang memerlukan lebih banyak bambu agar garam yang dihasilkan juga cukup banyak. Untuk membelinya, Kuswati mengajukan pinjaman modal ke Bank BRI.

"Pertama kali pinjem ke BRI sedikit sesuai kebutuhan. Kan kalau musim kemarau butuh modal banyak buat nyetok," katanya.

Selain bertani garam, Kuswati kini telah merambah investasi emas. Tak hanya aman, harga emas yang cenderung naik membuat ia tertarik berinvestasi. Hasilnya bisa untuk kebutuhan di masa depan.

"Saya juga nabung emas, tapi masih sedikit sesuai sama penghasilan lah. Kan seneng kalau kita ada tabungan, kita bisa berinvestasi. Misal kita ada kebutuhan jadi lebih mudah," katanya.

"Waktu itu ditawarin sama Mantri BRI, lalu saya tertarik. Katanya nggak apa-apa nabung sedikit-sedikit. Mau nabung karena aman, buat investasi kadang harganya kan biasanya naik. Ini saya nabung baru 6 bulanan," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/.

(prf/ega)