COVID-19 di Inggris Melonjak, Warga Diminta Waspada & Segera Vaksin

Erika Dyah - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 22:11 WIB
Rusia mencatat varian terbaru COVID-19 yang dinamakan AY.4.2. Varian Corona ini diketahui pertama kali ditemukan di Inggris.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Inggris mengalami lonjakan kasus positif COVID-19 meski lebih dari 70% penduduknya telah mendapatkan vaksinasi. Adanya fenomena ini membuat pemerintah RI kembali mengingatkan masyarakat untuk waspada dan mempertahankan disiplin protokol kesehatan, seiring dengan vaksinasi yang terus digencarkan.

"Kita ketahui, beberapa negara mengalami lonjakan kasus COVID-19 meski cakupan vaksinasi sudah cukup tinggi. Kali ini di Inggris, setelah sebelumnya beberapa negara Eropa lainnya, seperti Rusia. Hal ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa ancaman COVID-19 masih ada dan kita tidak boleh lengah, meski saat ini kondisi pandemi di Indonesia tertangani baik," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate dalam keterangan tertulis, Jumat (22/10/2021).

Johnny menerangkan saat ini tercatat lebih dari 50 ribu orang terinfeksi COVID-19 di Inggris. Meski demikian, pemerintah Inggris mengaku kasus rawat inap dan kematian tetap rendah berkat dukungan program vaksinasi yang cukup tinggi.

Diketahui, berdasarkan data dari Our World Data, hingga Selasa (19/10) cakupan vaksinasi di Inggris sudah mencapai 73,7% untuk dosis pertama dan 67,6% untuk dosis kedua.

"Lonjakan kasus baik di Inggris maupun Rusia adalah bukti nyata bahwa pandemi belum usai. Vaksinasi terbukti menjadi faktor penting untuk menekan risiko kematian. Oleh karena itu segerakan vaksinasi dan tetap gunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan," tegas Johnny.

Sementara itu, Epidemiolog dan Peneliti Senior Kamaluddin Latief mengatakan lonjakan kasus yang terjadi di Inggris saat ini dan di Israel sebelumnya harus menjadi pembelajaran penting untuk masyarakat Indonesia agar selalu waspada dan tidak boleh lengah. Menurutnya, penanganan pandemi yang terkendali tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan tingkat kewaspadaan dan disiplin protokol kesehatan.

"Justru momentum jeda seperti yang sekarang dialami Indonesia, adalah kesempatan baik bagi kita untuk mempelajari, mengevaluasi, mempertahankan apa yang sudah baik," papar Kamal.

Kamal menambahkan, meski Indonesia masuk 10 negara terbaik dalam akselerasi vaksinasi, masyarakat harus tetap mengingat bahwa hingga saat ini cakupan vaksinasi nasional belum sampai batas kekebalan komunal yang seharusnya berada di angka 70%.

Oleh karena itu, ia berpesan agar seluruh masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan vaksin untuk menyegerakan vaksinasi.

"Jadi selain terus disiplin protokol kesehatan dan pengetatan pintu masuk negara, vaksinasi harus terus kita kejar agar warga terhindar dari akibat buruk COVID-19. Pemerataan vaksinasi juga harus terus didorong, terutama untuk meraih kelompok rentan seperti lansia, orang dengan komorbid, ibu hamil, anak dan remaja," terangnya.

Kamal menjelaskan terdapat beberapa kemungkinan penyebab terjadinya lonjakan kasus di Inggris. Mulai dari pelonggaran protokol kesehatan, pembukaan perbatasan, hingga kemungkinan penurunan kekebalan vaksin. Selain itu, ia menilai mutasi varian baru juga bisa menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus.

"Pandemi ini adalah sebuah perang yang panjang. Selain itu, COVID-19 memang sesuatu yang baru, sehingga setiap negara masih harus belajar dan berupaya menemukan strategi paling tepat untuk mengendalikannya, sesuai dengan kondisi masing-masing. Baik dari pemerintah maupun masyarakat harus dilakukan upaya untuk pengendaliannya. Di antaranya, tetap disiplin protokol kesehatan dan terus mengejar vaksinasi," pungkasnya.

(fhs/ega)