Tanah-Gedung Diambil Pemkab, Kampus Bintan Tourism Institute Bakal Ditutup

Antara - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 11:10 WIB
Suasana di kampus BTI (Antara)
Foto: Suasana di kampus BTI (Antara)
Bintan -

Direktur Bintan Tourism Institute (BTI) Ruddy Firmansyah mengatakan kampus pariwisata yang berlokasi di Kijang, Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) bakal ditutup. Penutupan dilakukan mulai 1 November 2021.

"Aktivitas perkuliahan sudah tidak ada lagi. Tinggal inventarisasi aset kantor saja," kata Ruddy seperti dilansir dari Antara, Jumat (22/10/2021).

Dia menyebut kampus BTI ditutup karena Pemkab Bintan melalui Badan Pengelolaan dan Keuangan Aset Daerah (BPKAD) mengambil alih tanah dan bangunan itu. Lokasi itu bakal digunakan sebagai kantor Dinas Kesbangpol dan Dinas Lingkungan Hidup Bintan.

"Faktanya memang begitu, tapi kami dapat hak mengelola atau pinjam pakai lahan dan bangunan itu dari Bupati Bintan periode Ansar Ahmad yang dibuktikan dengan tanda tangan di atas kertas, untuk melaksanakan pendidikan pariwisata tanpa batas waktu," katanya.

Menurutnya, kampus BTI mulai beroperasi pada tahun 2014. Awalnya, kampus itu mendapat tantangan dari Bupati Bintan Ansar Ahmad -- yang sekarang menjadi Gubernur Kepri -- untuk mencetak SDM pariwisata. Dia mengatakan mahasiswa angkatan pertama dan kedua di BTI tidak dikenakan biaya sama sekali alias gratis karena ditanggung penuh oleh APBD Pemkab Bintan.

"Namun, sejak peralihan kepemimpinan Bupati Ansar Ahmad ke Bupati Apri Sujadi. Pemkab Bintan tidak pernah mengucurkan satu rupiah pun bagi operasional BTI, sehingga kami terpaksa berjalan sendiri," ujar Ruddy.

Dia mengatakan kampus BTI tidak pernah mencari keuntungan. Dia juga menyebut kampus BTI sudah meraih sejumlah penghargaan nasional.

"Kami telah mewisuda sekitar 600 orang. Angkatan terakhir wisuda atau kedelapan digelar September 2021, sebanyak 28 orang," katanya.

Dia menyampaikan lulusan kampus BTI dibekali empat sertifikasi, antara lain sertifikasi layak kerja kampus BTI, sertifikasi layak kerja dunia usaha saat melihat kelayakan kerja mahasiswa ketika training, sertifikasi BNSP yang berinduk di Jakarta, dan sertifikasi penanganan pangan langsung dari negara Australia. Dia mengatakan sejumlah alumni BTI bekerja di bidang pariwisata di Maldives hingga Selandia Baru.

"Beberapa di antaranya bekerja di luar negeri seperti Maldives, New Zealand, Bahrain hingga di kapal-kapal pesiar," katanya.

Dia mengatakan pihaknya sudah menyurati Pendiri Yayasan BTI, Ansar Ahmad, Dewan Pendidikan hingga Bupati Bintan terkait nasib kampus BTI. Ruddy mengatakan surat tersebut tak direspons sama sekali.

"Tapi sepertinya tak ada respon. Kami hanya bisa pasrah, tak mungkin mahasiswa belajar di lapangan bola kalau gedungnya sudah tak ada lagi," ujar Ruddy.

(haf/haf)