Kontemplasi Qalbu (10)

Keutamaan Sikap Proaktif

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 10:20 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Orang-orang yang proaktif tidak pernah frustrasi dan putus asa. Namun tidak pernah juga over confident. Sering terucap di mulutnya kalimat-kalimat optimistis tetapi tawadhu, seperti kata: "Insya Allah saya harus bisa". Satu sisi ia penuh keyakinan dan rasa percaya diri tetapi pada sisi lain ia tetapi percaya kepada Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ia dapat mengendalikan perasaannya sehingga tidak pernah tampak sesuatu yang berlebihan pada dirinya. Ia tidak pernah menunjukkan marah berlebihan seperti meledakkan emosi, namun tidak pernah juga hanyut dan mabuk dengan kegembiraan. Sepertinya selalu sikap dan perbuatannya selalu terukur dan terkontrol.
Ia terbiasa menjadi pendengar aktif. Mau pendengar dengan penuh empati kepada orang lain tanpa memanjakannya dengan pelayanan berlebihan. Ia tidak pernah berkecil hati menghadapi orang-orang yang sering menjadi trouble maker tetapi selalu berusaha mengendalikannya dengan kearifan. Ia bisa meyakinkan orang itu dengan caranya sendiri sehingga tidak menimbulkan masalah lebih luas. Ia mampu memberikan respons yang terukur kepada orang lain sehingga siapapun lebih senang curhat kepadanya. Jika orang sudah mulai curhat maka orang itu sudah mulai berubah. Apalagi jika ia menunjukkan tanda-tanda penyesalan yang mendalam terhadap peristiwa yang pernah dialaminya.

n
Jika terpaksa program yang direncanakannya belum berhasil maka ia tidak pernah memuntahkan kata-kata yang menyebalkan atau kata-kata kecewa, melainkan ia tetap memelihara kesantunan dan kesopanannya dengan mengucapkan kata-kata misalnya: Kali ini kita belum berhasil, tetapi insya Allah kesempatan lain dalam waktu dekat kita akan berhasil. Ia tidak pernah mengecilkan dan mengucilkan orang lain sungguhpun ia sudah mulai tidak senang. Jika terpaksa gagal maka sering kali terlotar kata: "Penyesuaian diri kita belum tepat", "Sebetulnya orang itu bisa dicari selanya dan bisa diselamatkan", dan "Kita harus mampu mempertanggung jawaban kita sendiri", dan sebagainya.


Pembawaan atau watak dan karakter tidak gampang tersinggung. Sungguh pun sengaja dipancing untuk tersinggung tetapi menampilkan ekspresi wajah yang tenang dan damai untuk semua. Ia selalu bertanggung jawab terhadap pilihan kebijakan yang dipilihnya. Ia samasekali tidak menunjukkan wajah dan penampilan pengecut. Ia selalu berfikir secara komprehensif sebelum bertindak, sehingga resiko pahit dalam kehidupannya jarang terjadi. Ia cepat pulih jika ia terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Misalnya jika ia dikecewakan oleh orang lain, maka ia tidak menaruh dendam samasekali. Ia selalu dan terus menerus mengembangkan potensi dirinya secara telaten.


Orang-0rang yang berkarakter proaktif selalu kaya dengan alternatif. Ia selalu menemukan jalan untuk menjadikan segalanya terlaksana. Tidak heran kalau dikatakan orang-orang seperti ini selalu sukses dan hamper tidak pernah merasakan kegagalan. Kalaupun ia gagal selalu menganggap ada hikmah lebih besar di balik kegagalan itu, sehingga tidak pernah tersedot oleh energinya sendiri. Ia juga selalu fokus kepada hal-hal yang bisa mereka ubah, tidak pernah khawatir terhadap hal-hal yang tidak bisa mereka ubah. Ia selalu berpegang pada prinsip yang sudah ditentukan sendiri. Ia tidak merdeka dari tekanan orang lain. Ia tidak memusingkan popularitas tetapi selalu berorientasi pada hasil akhir dan azas kemanfaatan sebagaimana dirumuskan dan direncanakan semula. Ia selalu memandang pengalaman hidupnya secara umum sebagai pengalaman positif. Ia suka berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan ikut bahagia dengan kebahagiaan orang lain. Masya Allah.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)