Kolom Hikmah

Model Kepemimpin Rasulullah

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 08:01 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Artikel ini disajikan dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad Saw dan merupakan rangkaian tulisan sebelumnya yang sudah di-share pada kolom ini tgl 12 maret 2021 dengan judul " Pemimpin ". Gaya kepemimpinan yang diterapkan Rasulullah ada tiga pokok di dalamnya sebagai berikut : syura' (permusyawaratan), keadilan disertai kesetaraan dan kebebasan berekspresi.

Syura' atau musyawarah merupakan tonggak pertama atau model dasar pengambilan keputusan. Para pemimpin diserukan agar bermusyawarah dengan mereka yang berpengaruh atau yang lebih memiliki pengetahuan dan paham akan persoalan yang sedang dihadapi. Dalam Al-Qur'an musyawarah menjadi indikator penting yang menunjukkan kualitas keimanan pada suatu masyarakat serta menjadi karakter utama dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Seperti Firman-Nya, " Dan ( bagi ) orang-orang yang menerima ( mematuhi ) seruan Tuhan dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka ( diputuskan ) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka ( QS Al-Syura' [42] : 38 ). Ayat ini jelas bahwa Gusti Allah telah mengingatkan bahwa musyawarah adalah sesuatu yang setara dengan ibadah ritual seperti shalat dan infak.

Musyawarah menjadikan syarat utama untuk membangun manusia yang lebih baik. Selain itu, musyawarah bisa sebagai alat yang sangat penting dalam melipatgandakan potensi dan kemampuan yang dimiliki sebuah masyarakat. Keputusan hasil musyawarah akan lebih tajam karena merupakan gabungan pemikiran para ahli yang mengerti pada bidang tersebut. Sejak 1.400 tahun lalu, Al-Qur'an telah mengajarkan kepada para pemimpin Muslim untuk melakukan musyawarah dalam pengambilan keputusan. Bangsa Jepang modern menggunakan sistem manajemen konsensus, hal ini secara umum dan substansinya sama. Praktek syura' bukan hanya memberdayakan para pemimpin dalam organisasi untuk berperan dalam pengambilan keputusan, melainkan secara efektif untuk mendisiplinkan pemimpin agar tetap pada jalur yang tekah diputuskan demi meraih tujuan bersama.

Keadilan, merupakan tonggak kedua dalam kepemimpinan Rasulullah. Seorang pemimpin akan berurusan dengan berbagai macam orang, suku, keyakinan, miskin, kaya, kebangsaan. Al-Qur'an memerintahkan agar bersikap adil dan tidak pilih-pilih bahkan terhadap orang yang menentang. Coba kita simak Firman Allah Swt : " Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau Ibu Bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia ( yang terdakwa itu ) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan ( kata-kata ) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha teliti segala apa yang kamu kerjakan. ( QS. An-Nisa' [4] : 135 ).

Keadilan bermakna meletakkan sesuatu pada tempatnya yang tepat, melakukan sesuatu tanpa melebihi batas seberapa besar maupun kecilnya. Memberikan kesempatan yang sama pada masyarakat untuk mengakses sektor ekonomi, sehingga tidak ada ketimpangan, yang terjadi justru kesetaraan. Hal ini sangat penting karena setiap warga masyarakat akan merasa sama dalam kegiatan semua sendi kehidupan. Sepanjang hayatnya Rasulullah mengatur segala urusan umatnya dengan adil dan beliau menasihati para sahabat agar melakukan hal yang sama. Diriwayatkan oleh Ali r.a. Nabi bersabda kepadanya," Ketika ada dua orang datang kepadamu meminta diputuskan perkara mereka, jangan pernah condong pada pihak tanpa pernah mendengar argumen pihak lain. Dengan cara itulah, kamu akan mengetahui kebenaran."

Tuntunan ini jelas sekali, memberikan putusan perkara dengan sebenar-benarnya. Namun, yang paling susah dihadapi para pemutus adalah " hadiah " yang sangat menggiurkan sehingga menjadikan ia tergelincir.

Kebebasan berpendapat ( berekspresi ) merupakan tonggak ketiga dalam kepemimpinannya. Hal ini merupakan hak yang diberikan kepada siapa saja untuk menyuarakan persetujuan, ketidaksamaan, kepedulian maupun saran-saran yang mempengaruhi kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dalam sesi Halaqah biasanya Rasulullah mendengarkan pandangan orang lain dengan sungguh-sungguh sampai mencondongkan tubuhnya ke arah orang itu, sebelum memberikan nasihat, berkomentar dan memberikan keputusan. Solusi untuk persoalan tertentu rujukannya pada Al-Qur'an, adapun solusi untuk masalah yang tidak begitu jelas dalam Kitab Suci maka rujukannya pada sunnah atau syura' ( musyawarah ) melalui proses ijtihad ( penalaran ) dan ijma' ( kesepakatan ) yang dipimpin oleh Rasulullah.
Kebebasan berekspresi ini amat erat kaitannya dengan praktik Syura', memungkinkan ada pandangan yang setuju maupun yang menentang. Itulah praktik musyawarah, memberikan kebebasan berekspresi namun harus sejalan dengan etika dalam perbedaan pendapat. Hasilnya adalah solusi terbaik yang memberikan gambaran kepada pemimpin cara menyelesaikan masalah. Di dalamnya terkandung hak asasi individu, sepanjang hak tersebut tidak melanggar hak orang lain.

Inilah contoh atau teladan dalam kepemimpinan, semoga para generasi muda yang nantinya akan meneruskan memimpin negeri ini dapat memahami dan menerapkan dengan sebenar-benarnya.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

(erd/erd)