NU Penerus Jangkar Ahulusunnah Waljamaah di Turki Ottoman

Deden Gunawan - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 17:16 WIB
Jakarta -

Hubungan diplomatik RI - Turki secara resmi baru dimulai pada 1950. Tapi hubungan kedua bangsa telah berlangsung sejak berabad-abad silam. Bahkan menurut Duta Besar RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal, ketika Kesultanan Ottoman Turki sebagai jangkar ahlussunah wal jamaah mulai meredup, para ulama di bumi Jawa bersiap untuk melanjutkannya. Hal itu antara lain diwujudkan dengan mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926.

"Saat mendirikan NU, KH Hasyim Asya'ri kala itu sudah tumbuh kesadaran bahwa tradisi ahlusunnah waljamaah harus dilanjutkan karena Ottoman sudah sunset dan akan runtuh," kata Lalu Muhamad Iqbal dalam program Blak-blakan di detik.com, Rabu (20/10/2021).

Kesadaran itu berdasarkan fakta bahwa di Ottoman tengah terjadi dekadensi moral. Perilaku Sultan dan keluarga serta para punggawanya sudah tidak Islami. Islam hanya sebagai simbol tapi nilai-nilainya tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengaku merujuk informasi tersebut dari paparan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar saat bertemu dengan para tokoh Islam di Turki pada awal 2019. "Kemudian NU lah yang menjadi penjaga ahlussunah waljamaah. "Jadi kalau mau belajar Islam ahlusunnah waljamah ya ke Indonesia, karena kala itu Turki justru sedang memasuki era sekularisme," ujar Lalu Muhamad Iqbal.

Tak heran bila kemudian bagi Turki, Indonesia seolah menjadi saudara dekatnya. Karena itu banyak memberi beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia meski Indonesia tak masuk kategori yang layak diberi beasiswa."Buat mereka, Indonesia berbeda. Dalam pandangan orang Turki, apalagi yang pernah menunaikan umroh atau haji, muslim paling beradab di dunia itu ya orang Indonesia," ujar Iqbal.

"Sudah taat, sopan, rapi, bersih. Kalau haji berseragam, bergandengan, gak pernah sikut-sikutan. Selalu punya kenangan, bagaimana orang tuanya yang sudah tua dibantu, digandeng oleh jamaah asal Indonesia. Di sisi lain, sebagian orang Indonesi juga mengagumi Turki, mengagumi Erdogen," imbuh mantan Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri itu.

(jat/jat)