Lava Pijar Diharapkan Cepat Keluar dari Perut Merapi
Selasa, 18 Apr 2006 19:13 WIB
Yogyakarta - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) berharap titik api diam dan lava pijar segera keluar dari gunung Merapi. Sebab bila tidak keluar, dikhawatirkan Merapi akan meletus dengan kekuatan besar."Guguran memang meningkat sejak status Siaga, tapi titik api diam yang jadi pedoman petugas untuk mengetahui arah letusan belum ada," kata Kepala BPPTK Dr Ratdomo Purbo kepada wartawan di kantor Jl Cendana, Yogyakarta, Selasa (18/4/2006).Ibarat sebuah balon gas, kata dia, bila terus ditiup dan semakin menggelembung, lama-lama akan meletus besar. Namun kalau kempes, hanya mengeluarkan angin secara pelan-pelan dan sedikit demi sedikit justru akan aman. "Kita ingin seperti yang kedua, ada titik api diam dan lava pijar sehingga akan tahu arahnya kemana dan jadi pemandangan menarik," kata dia. Dia menyatakan desakan magma dari bawah ke permukaan puncak saat ini semakin besar dan belum ada penurunan. Hal itu ditunjukkan dengan semakin banyaknya gempa multifase. Namun lava yang keluar dari perut bumi belum ada."Bila ada akumulasi energi bisa menimbulkan letusan. Sampai saat ini kita masih menunggu tetapi kita tidak berharap ada letusan besar. Kita lihat dulu akan ke mana arahnya. Itu yang penting," kata dia. Sementara itu secara terpisah, Kepala Seksi Penyelidikan Gunung Merapi Subandriyo mengatakan, desakan magma dari bawah terus berlangsung di kubah lava yang terbagi di beberapa titik, antara lain kubah lava tahun 1948, 1956 dan 1958. Di kubah lava 56 sampai 58 dan sudah bergerak lebih dari 30 cm ke arah Babadan. Sedangkan reflektor atau cermin ke arah Kaliurang juga sudah bergeser sekitar 3 meter. Sedangkan kondisi Blok Geger Buaya yang ada di lereng selatan saat ini juga tidak stabil, karena mengalami pergeseran sekitar 3 meter. Sementara kondisi puncak Garuda saat ini sudah miring posisinya. "Ini menunjukkan gempa di kawasan puncak semakin besar, tercatat selama satu hari ini sedikitnya 110 gempa multifase, 15 kali gempa dangkal dan beberapa kali guguran," kata Subandriyo.
(asy/)











































