Sejumlah Warga di Riau Protes Keluarganya Masuk Pusat Rehab Narkoba, Kenapa?

Raja Adil Siregar - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 14:34 WIB
Pusat rehabilitasi narkotika di Pekanbaru (Raja-detikcom)
Pusat rehabilitasi narkotika di Pekanbaru (Raja/detikcom)
Pekanbaru -

Sejumlah warga mendatangi pusat rehabilitasi narkotika di Pekanbaru, Riau. Warga protes karena merasa tak mendapat kabar keluarganya direhabilitasi di lokasi tersebut.

Dari video yang diterima detikcom, Senin (18/10/2021), terlihat warga mendatangi pusat rehabilitasi narkotika di Yayasan Rumah Solid, Jalan Sidodadi, Harapan Raya.

Warga mempertanyakan soal keluarga mereka yang direhabilitasi tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Mereka juga mempertanyakan biaya rehabilitasi senilai Rp 15 juta.

Ketua Yayasan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Rumah Solid, Henri Agus Ponsen, membenarkan soal warga yang datang ke yayasan tersebut pada Sabtu (16/10) malam. Dia mengatakan warga datang untuk menjenguk keluarga mereka.

"Benar, kemarin ada warga yang datang ke yayasan kami. Ada beberapa orang datang mau menemui keluarganya," kata Ponsen.

Ponsen mengatakan pihaknya tak bisa sembarangan menerima kunjungan orang untuk menjenguk pasien di tempat rehabilitasi. Dia menyebut orang-orang yang bisa menjenguk sudah terdaftar lebih dulu.

"Saat pasien masuk, ada ketentuan siapa saja yang boleh membesuk. Jadi keluarga yang membesuk kami batasi dan dikasih list, ini untuk membatasi interaksi pihak luar selama proses pemulihan," katanya.

Dia menyebut ada pihak keluarga salah paham dengan aturan tersebut. Menurutnya, pihak keluarga yang datang ke lokasi tidak masuk daftar pembesuk pasien yang baru masuk pada 14 Oktober lalu.

"Hasil asesmen pasien ini berat. Rencana rehabilitasi 3 bulan dan ini juga permintaan keluarga. Makanya kita sampaikan enggak bisa semua jenguk, karena yang boleh jenguk adalah ayah, ibu, mertua, pasangan sah dan saudara kandung dan yang datang kemarin bukan keluarga inti," kata Ponsen.

Ponsen mengatakan ada 11 pasien yang sedang menjalani rehabilitasi di yayasan yang berdiri sejak 4 tahun lalu itu. Para pasien itu ada yang dikenai tarif rehabilitasi Rp 15 juta dan ada juga yang gratis.

"Rp 15 juta itu untuk kebutuhan si pasien sendiri. Untuk biaya makan, konseling dan proses pemulihan, ada konselor, ada juga dokter yang melakukan asesmen selama pemulihan," katanya.

Pasien di Rumah Solid bukan hanya limpahan kasus dari polisi dan BNN. Dia mengatakan ada juga pasien yang menyerahkan diri atau diantar pihak keluarga untuk menjalani rehabilitasi dari kecanduan narkotika.

"Kami selalu sosialisasikan ke masyarakat, kalau ada keluarga yang pecandu supaya direhabilitasi. Jangan menunggu ditangkap pihak berwajib. Karena ada anak yatim dan kurang mampu juga kita rehabilitasi tanpa biaya," kata Ponsen.

(ras/haf)