Round-Up

Kontroversi Nama Ataturk Bakal Jadi Jalan di DKI

Tim detikcom - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 07:18 WIB
Perayaan 19 Mei 2019 Memoriam of Mustafa Kemal Ataturk, Youth and Sports Festival Izmir Konak Turkey. Republic Square.
Mustafa Kemal Ataturk (Foto: Getty Images/CasPhotography)
Jakarta -

Rencana nama tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, dijadikan nama jalan di DKI Jakarta menjadi kontroversi. Ketokohan Atartuk jadi sebab pertentangan.

Adalah Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Muhammad Iqbal, yang mengungkapkan Indonesia berencana mengganti salah satu nama jalan di daerah Menteng, Jakarta dengan nama tokoh Turki tersebut. Peresmian jalan itu mungkin dilakukan saat Presiden Turki mengunjungi Indonesia.

"Kami sudah meminta komitmen dari pemerintah DKI Jakarta untuk pemerintah memberikan nama jalan dengan founding fathernya Turki di Jakarta," kata Duta Besar Indonesia di Ankara, Muhammad Iqbal dalam acara Ngopi Virtual, Jumat (15/10/2021).

Iqbal mengaku sudah memberikan data terkait karakter hingga panjang jalan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Dalam hal ini, melalui wakil gubernur pada saat itu, sudah mengalokasikan salah satu jalan di daerah Menteng. Itu yang nantinya akan diberikan nama founding father Turki," kata Iqbal.

Erdogan disebut akan melawat ke Jakarta pada awal 2022. Pemprov DKI dan KBRI Ankara disebut masih menunggu kepastian nama yang akan digunakan sebagai jalan.

"Diharapkan jalan yang nanti dengan nama Bapak Bangsa Turki di DKI Jakarta itu, nantinya diharapkan akan diresmikan pada saat kunjungan Presiden Erdogan ke Jakarta," kata Iqbal.

Kontroversi Mengiringi

PKS DKI Jakarta menolak rencana tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, menjadi nama jalan di Jakarta. PKS menilai Ataturk sebagai sosok kontroversial.

"Jika memang sangat merugikan dan menyakiti kaum muslim, lebih baik dibatalkan pemberian nama jalan tersebut," kata Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoirudin dalam keterangannya, Minggu (17/10).

Anggota Komisi C DPRD itu menyoroti kontroversi Ataturk yang disebut merugikan muslim selama memimpin negara Turki. Salah satunya mengalihfungsikan Masjid Hagia Sophia dari masjid menjadi museum pada 1935.

"Sangat diktator, dia juga membuat kebijakan mengubah Masjid Hagia Sofia menjadi museum, mengganti azan berbahasa Arab dengan bahasa lokal, melarang jilbab dipakai di sekolah, kantor-kantor yang bersifat kepemerintahan," terangnya.

Khoirudin memahami kecintaan rakyat Turki terhadap founding fathers negaranya. Namun hal ini tak berlaku bagi umat Islam di negara lain. Selain itu, dia meyakini masih banyak tokoh yang bisa diabadikan menjadi nama jalan.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya:

Lihat juga Video: Alasan India Tak Jadikan Sukarno Nama Jalan

[Gambas:Video 20detik]




Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menolak wacana nama Mustafa Kemal Ataturk dijadikan nama salah satu jalan di DKI Jakarta. MUI mengatakan, jika pemerintah merealisasikan wacana tersebut, hati umat Islam akan tersakiti.

"Kalau pemerintah tetap akan mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Ibu Kota Jakarta, hal itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif, serta jelas-jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam, yang itu jelas tidak kita harapkan." kata Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10).

Anwar Abbas mengatakan Mustafa Kemal Ataturk adalah seorang tokoh yang sudah mengacak-acak ajaran Islam. Anwar Abbas menyebut banyak perbuatan Ataturk yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an dan Assunnah.

Anwar Abbas kemudian menyampaikan Ataturk adalah tokoh sekuler yang tak percaya ajaran Islam dapat membawa Turki menjadi negara maju. Anwar Abbas menyebut Ataturk sesat.

"Jadi Mustafa Kemal Ataturk ini adalah seorang tokoh, yang kalau dilihat dari fatwa MUI, adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, kalau pemerintah Indonesia akan tetap menghormatinya dengan mengabadikan namanya menjadi nama salah satu jalan di Ibu Kota Jakarta, hal demikian jelas akan sangat-sangat menyakiti hati umat Islam," kata Anwar Abbas.

"Karena bagaimana mungkin sebuah negara yang bernama Indonesia, yang berdasarkan Pancasila, di mana sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, lalu pemerintahnya akan menghormati seorang tokoh yang sangat sekuler dan melecehkan agama Islam," ujarnya.

Penjelasan DKI

Pemprov DKI Jakarta angkat bicara perihal wacana Mustafa Kemal Ataturk menjadi nama jalan di Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan rencana ini merupakan kerja sama pemerintah Indonesia dan pemerintah Turki.

"Jadi memang ada keinginan dari kita dan pemerintah Turki agar ada nama dari (tokoh) kita di Turki dan nama tokoh dari Turki (di kita)," kata Riza saat ditemui di Jalan Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur, Minggu (17/10).

Politikus Gerindra itu menjelaskan rencananya pemberian nama ini akan timbal balik, sehingga nantinya salah satu jalan di Turki diberi nama tokoh asal Indonesia.

Riza menyebut hal ini dilakukan demi mempererat kerja sama negara Indonesia dengan negara Turki.

"Jadi insyaallah bagian dari kerja sama antara Indonesia dan Turki," katanya.

(gbr/maa)