Anies Sebut Lebih Banyak yang Beragam, tapi Indonesia Punya Persatuan

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 17:35 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  menghadiri Munas Alim Ulama PPP di Semarang, Minggu (17/10/2021)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (Foto: dok. DPP PPP)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbicara perihal keberagaman dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama yang digelar PPP di Semarang, Jawa Tengah. Anies menyebut Indonesia bukanlah bangsa paling beragama di dunia, tapi memiliki satu hal yang tidak dimiliki negara lain.

"Kalau kita mengatakan kita bangsa beragam, tunggu dulu sebentar," kata Anies dalam video yang diunggah di akun Facebook DPP PPP, seperti dilihat detikcom, Minggu (17/10/2021).

Menurut Anies, India memiliki keberagaman lebih dari Indonesia. Selain India, Anies menyebut Afghanistan dan Papua Nugini. Mantan Mendikbud itu menyebut Afghanistan dan Papua Nugini memiliki bahasa yang lebih banyak dari Indonesia.

"Lihat India, lebih beragam. Lihat atasnya India, Afghanistan, lebih beragam. Jumlah bahasanya di sana (Afghanistan) lebih banyak dibanding kita. Lihat Papua Nugini, lebih banyak bahasa di Papua Nugini daripada di seluruh Indonesia," sebut Anies.

Namun Anies menuturkan ada satu hal yang dimiliki Indonesia tapi tak dipunyai negara lain. Satu hal yang dimaksud Anies adalah persatuan Indonesia.

"Jadi kalau kita katakan kita bangsa paling beragam, tidak, lebih banyak yang beragam. Tapi yang membedakan dari semua itu, di sini ada persatuan Indonesia, tidak dimiliki tempat lain," terang Anies.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya.

Selain itu, Anies berbicara tentang hal yang merekatkan masyarakat Indonesia. Apa itu? Yang dimaksud Anies adalah bahasa Indonesia.

"Kebetulan munasnya (Munas Alim Ulama PPP) ini bulan Oktober. Bulan Oktober itu bulan bahasa. Bahasa Indonesia adalah lem perekat bangsa Indonesia," ucap Anies.

Anies lalu menceritakan sejarah Jakarta. Pada 1930-an, di Pasar Senen, Jakarta Pusat, menjamur tempat-tempat kursus. Ada salah satu tempat kursus bahasa Indonesia di sana.

"Di Pasar Senen itu tahun 30-an tempat kursus. Yang mengajar kursus itu salah satunya Sutan Takdir Alisjahbana. Kursus apa? Kursus bahasa Indonesia," tutur Anies.

"Ini kita tidak percaya, tapi orang-orang yang dari Ponorogo ke sana belajar bahasa Indonesia, dari Madiun belajar bahasa Indonesia, dari Aceh belajar bahasa Indonesia. Semua belajar bahasa Indonesia, bahasa persatuan. Jadi, kita ini bersatu, link-nya bahasa Indonesia," imbuhnya.

(zak/gbr)