LaNyalla Cerita Sejarah hingga Falsafah Perguruan Silat PSHT

Yudistira Imandiar - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 17:35 WIB
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menilai falsafah ajaran perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sejalan dengan tujuan lahirnya negara dan cita-cita pendiri bangsa. Falsafah tersebut yakni mewujudkan sila ke-5 Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Foto: Dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memberi pengarahan kepada para pengurus dan pendekar PSHT usai dikukuhkan menjadi warga kehormatan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Ia mengajak para pengurus dan pendekar untuk mengingat sejarah hingga falsafah PSHT.

"Karena hanya dengan mengingat sejarah, kita akan tetap memiliki semangat juang dan dedikasi untuk kebesaran organisasi ini," ujar LaNyalla dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10/2021).

LaNyalla mengulas PSHT tercatat berdiri tahun 1922. Tetapi, cikal bakal PSHT telah lahir sejak tahun 1903 saat Ki Ageng Ngabehi Surodiwiryo meletakkan dasar gaya pencak silat Setia Hati di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya.

Oleh muridnya, Ki Hajar Harjo Utomo, pencak silat itu diteruskan di Madiun pada tahun 1922 dengan mendirikan perguruan Pentjak Sport Club atau PSC, kemudian diganti nama menjadi Pemuda Sport Club, yang singkatannya juga sama, yaitu PSC.

"Sebenarnya penggunaan nama Pemuda Sport Club adalah sebuah siasat saja. Untuk menghindari kecurigaan Penjajah Belanda saat itu, sehingga kata 'Pentjak' diganti dengan 'Pemuda'," tutur LaNyalla.

Lewat pergantian nama itu Ki Hajar Harjo Utomo leluasa mengajarkan ilmu bela diri kepada rakyat dan pemuda-pemuda di Madiun saat itu. Padahal, ilmu bela diri saat itu hanya bisa diajarkan kepada mereka yang berstatus bangsawan saja.

"Sumbangsih luar biasa pendiri PSHT inilah yang melahirkan pendekar di kalangan rakyat kebanyakan dan merupakan cikal-bakal para pejuang kemerdekaan. Meskipun tujuan mulia itu harus ditebus dengan pengorbanan oleh Ki Hajar Harjo Utomo, yang ditangkap dan diasingkan Belanda ke Jember, kemudian dipindah ke Cipinang dan Padangpanjang," papar LaNyalla.

LaNyalla menyebut PSHT telah memberi kontribusi penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebab, cikal-bakal pejuang perintis kemerdekaan bangsa ini, salah satunya adalah pendekar-pendekar PSHT, yang dididik langsung oleh pendiri PSHT, Ki Hajar Harjo Utomo. LaNyalla menyatakan saat ini PSHT adalah perguruan besar dengan 15 juta pengikut baik di Indonesia maupun di luar negeri.

"Ini menunjukkan bahwa PSHT sebuah perguruan yang sangat besar dan memiliki magnet yang sangat kuat sehingga banyak diminati dan diikuti oleh puluhan juta pengikut," sebutnya.

LaNyalla menambahkan PSHT dikenal memiliki banyak sekali falsafah kehidupan. Semuanya tertulis dalam kumpulan kalimat bijak Warga PSHT. Kalimat-kalimat tersebut, kata dia, menjadi prinsip hidup setiap Warga PSHT secara turun temurun hingga hari ini.

"Yang saya tahu, sedikitnya ada 30 kalimat bijak yang menjadi falsafah bagi Warga PSHT, di mana falsafah yang terkandung dalam kalimat-kalimat bijak tersebut, hingga kini masih menjadi pegangan dan diamalkan oleh Warga PSHT secara turun temurun. Ini harus terus dipegang teguh," urai LaNyalla.

Ia menyoroti dinamika organisasi, terutama menyangkut dualisme kepengurusan PSHT. LaNyalla meminta hal tersebut disikapi dengan dewasa dan pikiran yang jernih.

"Jangan terbawa emosi. Karena kemarahan hanya akan merugikan kita sendiri. Yakin saja, bahwa kebenaran bisa disalahkan, tetapi kebenaran tidak akan bisa dikalahkan. Sejalan dengan ajaran luhur Warga PSHT, bahwa 'Sing Resik, Uripe Bakal Mulyo', atau yang bersih hidupnya akan mulia," imbuh LaNyalla

(akd/ega)