Round-Up

4 Fakta Pilu 3 Warga Bali Seda Akibat Lindu

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 16 Okt 2021 21:03 WIB
Gempa dengan kekuatan magnitudo 4,8 mengguncang Karangasem, Bali, Sabtu (16/10/2021).
Kerusakan yang timbul akibat gempa terjadi di Bali. (Antara Foto//Fikri Yusuf)

3 Orang Tewas-7 Patah Tulang

Sebanyak tiga orang seda atau meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo 4,8 yang terjadi Karangasem. Selain meninggal dunia, sebanyak tujuh orang juga mengalami patah tulang.

"Korban jiwa di Kabupaten Bangli 2 orang meninggal dunia. Kabupaten Karangasem 1 orang meninggal dunia, 7 orang patah tulang," kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Made Rentin kepada detikcom, Sabtu (16/10).

1 orang meninggal dunia di Kabupaten Karangasem masih dalam tahap evakuasi dari reruntuhan bangunan. Evakuasi juga masih menunggu tim search and rescue (SAR). Sementara tujuh orang yang patah tulang sudah berhasil dievakuasi ke Puskesmas terdekat dan RSUD Karangasem.

Pilu Ayah Kenang Kepergian Anak

Seorang bocah bernama Lionel Adi Putra (8) meninggal dunia akibat gempa berkekuatan magnitudo 4,8 menerjang Bali. Siswa sekolah dasar (SD) kelas II itu tewas akibat tertimbun bukit longsor di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Jenazah Lionel dimakamkan di Pemakaman Islam Panjer, tepatnya di Jalan Waturenggong, Denpasar. Lionel dikuburkan sekitar pukul 13.45 WITA.

Potret kerusakan akibat gempa Magnitudo 4,8 di Bali.Potret kerusakan akibat gempa Magnitudo 4,8 di Bali. (Dok. BPBD Bali)

"Ini anak pertama dari tiga bersaudara, umurnya baru 8 tahun," kata sang ayah, Dede Solihin Adi Putra, kepada wartawan seusai penguburan jenazah anaknya, Sabtu (16/10).

Lionel merupakan anak pertama pasangan Dede dan Putu Wahyuni. Sebelum dikuburkan, jenazah terlebih dahulu dimandikan dan disalatkan di Masjid An-Nur Denpasar, oleh pihak keluarga dan kerabatnya.

Dede sempat menceritakan tentang peristiwa gempa yang terjadi dan menimpa keluarganya itu. Rumahnya di Desa Trunyan memang berada di dekat bukit. Sekitar pukul 04.00 WITA, bukit tersebut hendak runtuh akibat gempa.

"Kurang dari semenit langsung longsor. Kami lagi tidur langsung melarikan diri, tapi nggak sempat. Mau lari ke danau juga nggak sempat. Langsung longsor dari belakang," terang Dede.

"Kami enam orang selamat, dua meninggal, termasuk anak saya. Almarhum sama bibinya mau menyelamatkan diri tapi kena reruntuhan (dan akhirnya meninggal)," kisahnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: