Bali Tolak Kenaikan Harga Pupuk
Senin, 17 Apr 2006 22:10 WIB
Denpasar - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali menolak rencana pemerintah menaikkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk sebesar 10 persen. Sebab, di Bali pun kerap terjadi kelangkaan pupuk. "Kami menolak rencana kenaikan tersebut karena secara otomatis petani yang menjadi korban," kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali, Prof Dr Ir Nyoman Suparta MS MM, di Sari Wrta Boga, Denpasar, Senin (17/04/2006). Menurutnya, jika harga pupuk naik sedangkan harga jual gabah tetap maka keuntungan petani akan berkurang. "Kita mengharapkan petani mendapat untung lebih besar agar kesejahteraan meingka. Jika harga pupuk naik maka harga standar gabah harus naik," pintanya. Dia mengatakan agar pemerintah tetap memberikan subsidi pupuk. Karena, masalah lain yang dihadapi petani adalah kepastian pembelian dan harga pembelian gabah kering panen. Harga gabah kering panen Rp 1.700 sedangkan harga beras hanya Rp 5.000. "Keuntungan petani justru dinikmati oleh pedagang," tegasnya. Suparta mengatakan kelangkaan pupuk juga menjadi persoalan petani Bali bahkan terjadi di sentra gabah di Bali, seperti di Tabanan dan Badung. Ia menilai kemungkinan barang itu macet di suatu tempat sehingga di pasaran pupuk sulit bisa didapatkan. Jalur distribusi pupuk dituding sebagai sumber masalah kelangkaan lantaran pupuk. Tetapi Kalimantan Timur selaku pemasok utama pupuk di Bali selalu menyatakan sudah cukup produksi dan pemasarannya ke Bali. HKTI Bali mendesak meminta pemerintah meninjau ulang distribusi pupuk. Hal ini agar ketersediaan pupuk di tangan petani serta meminta komitmen para penyalur pupuk yang sudah ditunjuk pemerintah.
(ton/)











































