Ribhi Awad, Diplomat Palestina yang Kontroversial
Senin, 17 Apr 2006 19:59 WIB
Jakarta - Kemelut di Kedutaan Besar (Kedubes) Palestina untuk Indonesia yang didahului dengan berita 'Dubes Palestina Ribhi Awad Disandera' ternyata misterius. Ribhi yang sudah tidak menjabat lagi sebagai dubes seharusnya sudah meninggalkan kantor Kedubes. Tapi,itu tidak dilakukannya hingga kini. Selama menjabat Dubes Palestina untuk Indonesia selama 14 tahun, Ribhi menorehkan prestasi dan kontroversi. Dan kontroversi itu masih saja muncul hingga hari ini, Senin (17/4/2006). Yang paling gres, Ribhi yang berasal dari Partai Fatah mengaku disandera oleh Naseer Wahab, kuasa usaha Dubes Palestina yang saat ini menjadi pejabat sementara (pjs) Dubes Palestina. Naseer Wahab berasal dari Hamas, partai yang saat ini berkuasa di Palestina. Namun, pengakuan Ribhi itu ditepis oleh Naseer. Menurut Naseer, masa tugas Ribhi seharusnya berakhir Desember 2005. Sejak saat itu, Ribhi seharusnya meninggalkan kantor Kedubes Palestina yang beralamatkan di Jl. Diponegoro 59, Jakarta Pusat itu. Kantor yang baru-baru ini selesai direnovasi ini juga dipakai oleh Ribhi sebagai tempat tinggal resminya bersama istri keduanya, Fatimah. Tapi, Ribhi tidak juga meninggalkan kantor Kedubes itu segera. "Hal itu berarti sejak Januari dia beserta keluarganya telah tinggal secara ilegal di wilayah Kedutaan Besar Palestina. Padahal pihak Kedubes harus menanggung semua pengeluarannya," ujar Naseer. Sementara para staf tidak pernah meminta Ribhi untuk segera meninggalkan kantor Kedubes. Akan tetapi, akses perkantoran justru dikuasai oleh Ribhi, padahal para staf membutuhkannya untuk bekerja. "Tapi dia telah memberitahukan ke semua orang bahwa dia telah disandera setidaknya selama seminggu terakhir mengatakan seperti itu. Kita tidak pernah mengancam dia. Malah dia menodongkan pistolnya pada beberapa staf termasuk saya," ujar Naseer.Benarkah klaim Naseer? Ribhi membantah sempat menodongkan pistol kepada para staf Kedubes. Dia juga menuduh Naseer telah mendistorsi dirinya. Tapi, yang agak mencengangkan, Ribhi mengaku miskin. Namun, dia mengaku akan segera kembali ke Palestina setelah melapor kepada Presiden SBY dan Menlu Hassan Wirajuda. "Insya Allah Mei saya akan kembali ke Palestina. Indonesia memang indah, tapi Palestina lebih indah," kata pria berumur 65 tahun ini. Entah mana pihak yang benar dalam kasus ini, yang pasti Ribhi yang selama ini cukup kontroversial, masih menebar kontroversi. Sementara polisi masih bersiaga di Kantor Kedubes Palestina. Berseteru dengan Alwi Kisah Ribhi yang penuh kontroversi terjadi sekitar Oktober 2000. Di saat Indonesia dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ribhi pernah berseteru dengan Alwi Shihab, yang saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri. Perseteruan itu mengakibatkan Alwi mengancam akan membuat surat kepada Presiden Yasser Arafat untuk menarik Ribhi dari Dubes Palestina untuk Indonesia. Perseteruan ini berawal dari anggapan Alwi bahwa Ribhi telah memberikan informasi tidak akurat kepada Ketua Delegasi Parlemen Palestina tentang Indonesia. "Saya jelas mengatakan bahwa saya akan memanggil dia dan akan meminta klarifikasi kalau dia tidak mengoreksi kesalahannya. Jika perlu saya akan menulis surat kepada Pemerintah Palestina agar dia diganti," kata Alwi saat itu. Akar permasalahan yang terjadi, saat itu Ribhi menyatakan bahwa pemerintah Indonesia bersikap netral dalam kasus pembantaian warga Palestina. Menurut Alwi, pernyataan Ribhi terkesan menjelekkan Indonesia di mata dunia internasional dan akan mengesankan Indonesia tidak pro-Palestina. Menurut Alwi, sikap pemerintah Indonesia terhadap Israel sangat jelas, memperjuangkan berdirinya negara Palestina dan mengutuk semua pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan menjunjung penegakan de-mokrasi.Namun, perseteruan Ribhi dengan Alwi ini tidak lama. Ribhi meminta maaf dan mengoreksi pernyataannya itu. Setelah kasus itu dianggap selesai, Alwi dan Ribhi berdamai dan berpelukan. Ribhi juga pernah bersitegang dengan Din Syamsuddin, yang saat ini menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. Saat itu, Mei 2002, Din memimpin pendeklarasian Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISP) di Jakarta. Nah, Ribhi mendapat giliran sambutan setelah Din.Tapi, pernyataan Ribhi menuai masalah. "Dalam perjuangan Rakyat Palestina melawan Israel ini, antara Islam dan non-Islam bersatu padu melawan penjajah Israel. Peluru yang ditembakkan Israel tidak memandang sasarannya pemeluk agama Islam maupun non Islam, yang penting sasaran itu rakyat Palestina," ucap Ribhi. Ucapan Ribhi inilah yang memancing ketegangan itu. Din yang menjabat Ketua Umum KSIP tidak setuju dengan pernyataan Ribhi yang membawa-bawa 'non muslim'. Bagi Din, Indonesia sudah mengidentikkan Palestina itu Islam. Tapi, Ribhi tetap menolak pandangan Din, sementara Din juga ngotot dengan pandangannya. Tapi, ketegangan itu berhasil diredakan oleh tokoh-tokoh lain. Meski cukup kontroversial, namun Ribhi juga menoreh prestasi. Dia dipercaya sebagai Ketua Korps Diplomatik. Awad dipercaya memimpin organisasi para diplomat asing di Indonesia. Anggota Korps Diplomatik ini berjumlah 50 negara. Peristri Orang Indonesia Dalam berbagai kesempatan, Ribhi juga mengaku senang dengan Indonesia. Takjubnya kepada Indonesia itu juga termasuk takjub dengan perempuan asal Indonesia. Karena itulah, dia menikahi Fatimah, wanita asal Makassar. Saat ini, Ribhi-Fatimah telah dikaruniai dua anak, Siraj (5) dan Nadah (3,5). Fatimah merupakan istri kedua Ribhi. Sebelumnya, Ribhi beristrikan perempuan Palestina. Dari hasil perkawinan pertamanya itu, Ribhi mendapat seorang anak bernama Bassam, yang sekarang berusia 30 tahunan dan sekolah di Amerika Serikat. Ribhi menikahi Fatimah setelah istri pertamanya terkena stroke. Ribhi membawa istrinya itu ke Kairo, Mesir, untuk mengobatan. Setelah ditinggal istrinya selama lima tahun itulah Ribhi bertemu Fatimah dan menikahinya. "Saat itu saya seperti perjaka saja," kata Ribhi kepada Jakarta Post, beberapa waktu lalu. Hidup Ribhi memang sebagai diplomat. Pria bernama lengkap Ribhi Yusuf Awad ini menjadi diplomat selama 38 tahun. Selain di Indonesia, Ribhi yang mengaku dekat dengan Yasser Arafat pernah menjadi diplomat di Mesir, Yordania, Siria, Aljazair, Tunisia, Kenya, dan Finlandia. Tapi, anehnya, saat ini Ribhi mengaku tidak punya materi apa-apa, meski hanya rumah sederhana.
(asy/)











































