Hiii Seram, Nelayan di Kendal Suka Dengar Suara Gamelan di Laut Pantura

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 10:45 WIB
Hiii Seram! Nelayan di Kendal Suka Dengar Suara Gamelan di Laut Pantura
Nelayan di Kendal Suka Dengar Suara Gamera di Laut Pantura (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Kendal -

Laut memang menyimpan banyak misteri. Tak jarang terjadi hal-hal di luar nalar yang membuat bulu kuduk merinding.

Seperti halnya yang dialami oleh Kusnadi (45). Nelayan asal Desa Gempolsewu, Kendal ini mengaku sering mendengar suara-suara mistis saat tengah melaut. Bahkan suara seperti tangisan dan gamelan sering muncul di siang hari.

"Kadang ada sejenis suara hantu. Tiba-tiba ada suara bebek, suara gamelan juga. Itu siang juga kadang dengar. Kayak ada suara musik. Yang sering denger misalnya gamelan, terus dengar suara orang buka-tutup pintu. Kadang juga ada suara bayi nangis," ujarnya kepada tim detikcom belum lama ini.

Hal yang sama dikatakan oleh Imam Syafii, salah satu awak kapal yang kerap menemani Kusnadi. Menurut imam, suara-suara mistis tersebut sering dikaitkan dengan Makam Kemangi yang ada di Desa Jungsemi, yang letaknya tak jauh dari bibir Pantai Utara Jawa (Pantura).

"Mitosnya di wilayah. Lurusan Kemangi. Kalau lautnya itu lurusan Desa Kemangi itu pasti kadang kalau menyelam sering dengar seperti gamelan, lainnya. (Letaknya) dari sini (Desa Gempolsewu) ke arah timur. Nggak gitu jauh jaraknya. Dia terkenal angker," jelasnya.

Konon katanya, lanjut Imam, banyak pendatang yang tersesat saat memasuki wilayah Desa Jungsemi. Entah karena tak tahu arah desa sehingga berputar-putar terus kembali di jalan yang sama. Atau disesatkan oleh jin.

"Katanya kalau orang luar daerah sini lewat situ banyak yang disesatkan. Termasuk yang dengar suara-suara itu, di laut daerah situ," tuturnya.

Selain Makam Kemangi, Imam mengatakan Laut Utara Jawa juga menyimpan misteri lainnya. Salah satunya terkait Dewi Lanjar. Kalau Nyi Roro Kidul menguasai Laut Selatan, maka sosok Dewi Lanjar sendiri dianggap sebagai penguasa Pantai Utara Jawa.

"Kalau Pantai Pantura ada juga. Penguasanya itu Dewi Lanjar, pusatnya di Pemalang atau Pekalongan. Tapi di sini nggak se-ekstrem Laut Selatan," katanya.

Berdasarkan legenda, di masa lampau hidup seorang putri bernama Dewi Rara Kuning. Ia telah menjadi janda di usia muda karena sang suami meninggal tak lama setelah melangsungkan pernikahan. Hal ini yang membuat Dewi Rara dikenal sebagai Dewi Lanjar. Artinya wanita yang bercerai dan belum memiliki keturunan.

Menurut imam, suara mistis tersebut sering dikaitkan dengan Makam Kemangi yang ada di Desa Jungsemi, yang letaknya tak jauh dari bibir Pantura.Menurut imam, suara mistis tersebut sering dikaitkan dengan Makam Kemangi yang ada di Desa Jungsemi, yang letaknya tak jauh dari bibir Pantura. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Nama Dewi Lanjar juga sering dikaitkan dengan insiden anak hilang di Laut Utara Jawa. Konon, apabila ada anak yang hilang saat bermain di pantai, masyarakat sekitar percaya ia dibawa oleh Dewi Lanjar.

Di sisi lain, Imam menjelaskan saat mendengar suara-suara aneh saat sedang berada di lautan, nelayan biasanya segera pergi mencari spot menebar jaring yang lain. Sebab mereka takut hal buruk akan terjadi.

Diungkapkan Imam, setiap hari mereka mulai berangkat melaut sejak pagi hingga siang hari. Dalam sehari setidaknya ada 10 kg ikan yang berhasil ditangkap untuk kemudian dijual dan hasilnya dibagi ke nelayan lainnya.

"Kalau nelayan itu berangkat itu ada dari jam 3 pagi ada yang subuh, tergantung mau jam berapa. Terus berangkat melaut cari ikan, pulangnya nggak nentu kadang bisa siang, sore, kadang bisa malam tergantung pendapatan. Kalau dapatnya ikan nggak nentu, paling seenggaknya 10 kg dapat lah sehari. Dibawa pulang nanti dijualnya ke tengkulak," katanya.

Dari penjualan ikan-ikan tersebut, ia mengaku dapat mengantongi hingga Rp 600 ribu. Kendati demikian, ada kalanya hasil tangkapan ikan sedikit sehingga mereka hanya memperoleh Rp 20 ribu dalam sehari.

"Pendapatannya misal jual Rp 600 ribu dipotong perbekalan dulu kayak solar, sisa Rp 500 ribu dibagi, kalau yang berangkat orang 3 dibagi 5, orangnya dapat 1 bagian, kapalnya dapat 2 bagian. Jadi, Rp 100 ribu satu orang. Kalau paling gede bisa Rp 300 ribu kadang ya lebih. Kadang pernah Rp 20 ribu," paparnya.

Imam mengatakan dalam belanja perlengkapan kapal, seperti solar dan jaring, dia mengajukan pinjaman modal Ultra Mikro (UMi) dari BRI. Bantuan tersebut menurutnya cukup membantu karena cepat cair serta bunga yang terbilang cukup rendah.

"Awal mula pinjam Rp 1 juta kalau nggak salah sekitar Mei 2021. Yang pertama pinjam saya yang datang ke agen brilink, terus saya pinjam lagi Rp 1 juta untuk modal. Sebelumnya belum pernah minjam, baru itu. Kalau pinjaman itu terutama untuk nambah modal nelayan, beli jaring, beli solar, dan perlengkapan lainnya," katanya.

"Sangat membantu karena prosesnya mudah, bunganya juga nggak besar. Pokoknya terjangkau sekali," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/.

Lihat juga video 'Ketakutan Nelayan di Natuna Karena Ada Coast Guard China':

[Gambas:Video 20detik]



(ncm/ega)