Nelayan di Kendal Pantang Melaut Saat Jumat Kliwon, Kenapa?

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 09:45 WIB
Nelayan di Kendal Pantang Melaut Saat Jumat Kliwon, Kenapa?
Nelayan di Kendal Pantang Melaut Saat Jumat Kliwon, Kenapa? (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Kendal -

Kepercayaan terhadap hal-hal mistis masih diyakini sebagian masyarakat Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Salah satunya tentang kepercayaan hari Jumat Kliwon sebagai hari yang istimewa.

Sejak dulu, Jumat Kliwon memang dipercaya banyak orang sebagai hari sakral, bahkan keramat. Tak jarang juga mitos yang menyebut Jumat Kliwon dapat membawa sial. Kepercayaan ini juga masih dipegang oleh nelayan-nelayan di Pulau Jawa.

Pada Jumat Kliwon, para nelayan banyak yang memilih untuk tidak melaut. Tradisi yang telah ada sejak zaman nenek moyang ini ternyata tak hanya dilakukan oleh para nelayan di Pantai Selatan saja, melainkan juga nelayan di Pantai Utara.

Seorang nelayan asal Desa Gempolsewu, Kendal, Imam Syafi'i mengungkapkan Jumat Kliwon menjadi salah satu hari sakral yang diistimewakan. Tradisi ini, diungkapkan Imam, juga telah ada sejak dulu dan turun temurun dilakukan oleh nelayan di tempatnya hingga saat ini.

"Kalau di Jawa Jumat Kliwon itu kan hari yang agak sakral, sedikit diistimewakan. Nggak ada pantangan khusus sebenarnya. Cuma memang dari dulu turun temurun seperti itu, Jumat kliwon nggak ada (nelayan) yang berangkat (melaut)," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Meski tak ada pantangan, Imam menyebut kebanyakan nelayan di tempatnya memilih untuk tak melaut. Sebab, biasanya hal ini bisa berdampak terhadap hasil tangkapan ikan mereka.

"Kalau tetap melaut, nggak ada kejadian apa-apa. Cuma paling kebanyakan kalau Jumat Kliwon nekat berangkat pendapatannya biasanya nggak ada. Bisa nggak dapat apa-apa atau biasanya kurang (hasil tangkapannya)," tambahnya.

Saat Jumat Kliwon, Imam menjelaskan jumlah nelayan yang nekat berangkat juga dapat dihitung jari. Adapun mereka yang berangkat biasanya terdesak oleh kebutuhan sehari-hari.

"Ada yang tetap melaut dari 100 perahu mungkin hanya 5 perahu yang berangkat, yang nekat. Biasanya (mereka) terdesak kebutuhan," katanya.

Meski tak ada pantangan, Imam menyebut kebanyakan nelayan di tempatnya memilih untuk tak melautMeski tak ada pantangan, Imam menyebut kebanyakan nelayan di tempatnya memilih untuk tak melaut pada Jumat Kliwon (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)

Melanjutkan tradisi yang ada, Imam mengatakan dirinya memilih libur melaut saat Jumat Kliwon. Ia meyakini tradisi leluhur Jawa tersebut memiliki alasan khusus. Adapun hari Jumat Kliwon ia gunakan untuk beristirahat.

"Kalau saya Jumat Kliwon libur terus. Waktunya untuk istirahat, kan juga nanggung sama Jumatan," katanya.

Dalam kesehariannya, Imam memang terkadang membutuhkan waktu hampir seharian untuk melaut. Imam bercerita setiap hari ia bisa berangkat melaut sejak subuh dan baru pulang pada sore hari.

"Kalau nelayan itu berangkat ada yang dari jam 3 pagi, ada yang subuh, tergantung mau jam berapa. Pulangnya nggak nentu, kadang bisa siang, sore, kadang bisa malam. Tergantung pendapatan, kalau sudah dapat banyak kadang jam 4 atau jam 2 bisa pulang," katanya.

Dari melaut, pendapatan yang ia dapatkan juga tak menentu. Setidaknya dalam satu hari Imam bisa mendapatkan 10 kg ikan. Selain itu, penjualan ikan juga tak hanya diperuntukkan untuk dirinya, melainkan dibagi dengan para nelayan lainnya. Mengingat saat melaut memang dibutuhkan 2-3 orang nelayan.

"Setiap hari nangkep ikan kira-kira dapatnya 10 kg dapat. Itu dijual ke tengkulak pendapatannya misal jual Rp 600 ribu dipotong perbekalan dulu kayak solar, sisa Rp 500 ribu dibagi, kalau yang berangkat orang 3 dibagi 5, orangnya dapat 1 bagian, kapalnya dapat 2 bagian. Jadi, Rp 100 ribu satu orang. Kalau paling gede bisa Rp 300 ribu kadang ya lebih," katanya.

Untuk permodalan, Imam mengatakan dirinya terbantu dengan adanya pinjaman Ultra Mikro dari BRI. Awalnya, ia meminjam Rp 1 juta untuk membeli solar dan perlengkapan memancing. Dengan adanya modalan ini, Imam mengaku sangat terbantu, terlebih proses pencairan pinjaman juga sangat mudah.

"Awal mula pinjam Rp 1 juta kalau nggak salah sekitar Mei 2021. Yang pertama pinjam saya yang datang ke agen BRILink, terus saya pinjam lagi Rp 1 juta untuk modal. Kalau pinjaman itu terutama untuk nambah modal nelayan, beli jaring, beli solar, dan perlengkapan lainnya," katanya.

"Sangat membantu karena prosesnya mudah, bunganya juga nggak besar. Pokoknya terjangkau sekali," tandasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/.

Lihat juga video 'Ketakutan Nelayan di Natuna Karena Ada Coast Guard China':

[Gambas:Video 20detik]



(ncm/ega)