Pintu Masuk RI untuk Warga Asing Ditambah, LaNyalla: Tetap Waspada

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 14 Okt 2021 19:59 WIB
Ketua DPD RI LaNyalla
Foto: dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti meminta pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul kembali dibukanya jalur penerbangan internasional di sejumlah daerah. Sebab ia menilai pandemi COVID-19 belum sepenuhnya usai.

Diketahui, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Bandara Raja Haji Fisabilillah Kepulauan Riau (Kepri) membuka penerbangan internasional untuk 19 negara yang telah ditetapkan WHO berada pada level 1 dan 2 angka kasus terkonfirmasi COVID-19 dengan angka positivity rate rendah.

Ke-19 negara tersebut di antaranya, Saudi Arabia, United Emirat Arab, Selandia Baru, Kuwait, Bahrain, Qatar, China, India, Jepang, Korea Selatan, Liechtenstein, Italia, Prancis, Portugal, Spanyol, Swedia, Polandia, Hungaria, dan Norwegia.

"Saya mengingatkan pada semua pihak untuk tetap waspada dan menyiapkan antisipasi terhadap kemungkinan serangan ketiga wabah COVID-19 yang belum selesai," tegas LaNyalla dalam keterangan tertulis, Kamis (14/10/2021).

Ia menjelaskan, selain Bali dan Kepri, Indonesia juga membuka pintu masuk melalui Bandara Internasional Jakarta atau Manado dengan catatan mengikuti ketentuan karantina dan testing yang sudah ditetapkan.

"Dan ini merupakan risiko yang cukup besar yang tetap harus menjadi perhatian kita bersama," kata LaNyalla.

Senator asal Jawa Timur itu melanjutkan, sebagai pintu masuk bagi warga asing, Jakarta dan Manado merupakan kota yang rentan.

"Meskipun kita sudah menggencarkan vaksinasi, tetapi kita tetap harus waspada terhadap berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi dan tanpa terduga," tuturnya.

Oleh karena itu, ia meminta kepada Satgas COVID-19 untuk memberikan prosedur yang jelas dan ketat kepada warga negara asing yang masuk ke Indonesia melalui dua bandara tersebut.

Selain itu, LaNyalla juga meminta pemerintah menyiapkan skenario penanganan COVID-19 bagi warga negara asing yang ternyata terjangkit COVID-19 begitu tiba di Indonesia secara matang.

"Jangan sampai kita pembukaan penerbangan internasional itu sama dengan membuka kembali peluang meningginya penularan COVID-19 gelombang ketiga di Indonesia. Jadi, harus betul-betul dipersiapkan skenarionya dengan matang dan baik," pungkasnya.

(prf/ega)