Kontemplasi Qalbu (9)

Kelemahan Sikap Reaktif

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 04:45 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Watak dan sikap reaktif selain banyak merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Karena itu, salah satu fungsi dan tujuan ajaran agama ialah mentransformasikan sikap dan watak reaktif ke sikap dan watak proaktif. Sikap dan watak reaktif sering digambarkan di dalam Al-Quran sebagai kegelapan (al-dhulumat) dan sikap dan watak proaktif digambarkan sebagai cahaya (al-nur), seperti dijelaskan di dalam ayat: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. al-Baqarah/2:257).

Di antara sifat-sifat negatif orang-orang yang bersikap reaktif ialah: Mudah sekali tersinggung, cepat marah, dan mengeluarkan kata-kata kasar yang kemudian ia sesali sendiri. Hal-hal yang kecil dan sepele selalu dibesar-besarkan, sehingga ia selalu berada di dalam kerumunan problem. Belum selesai persoalan yang satu muncul lagi persoalan baru, sehingga ia sering merasa hidup ini sangat melelahkan dan membosankan. Ia cenderung selalu mengiba-iba, merengek, mengeluh, dan suka curhat kepada orang lain yang ada di sekitarnya. Negative thinking selalu mendominasi pikirannya, sehingga energinya habis terkuras. Dillustrasikan di dalam Al-Quran bagaikan orang yang mendaki ke langit, semakin jauh ke atas semakin tipis oksigennya, sehingga dada terasa sesak. Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. al-An'am/6:125).

Orang yang bertipe reaktif juga selalu menunggu segalanya terjadi kepada mereka. Ia tidak terbiasa mengambil inisiatif atau berfikir lain dari skema kehidupan yang sudah dipermanenkan di dalam dirinya. Akibatnya, hampir tidak terjadi perubahan berarti di dalam hidupnya dalam arti positif. Ia berubah jika memang secara alamia betul-betul perlu dan mendesak. Ia mudah takluk kalau dapat tekanan dari orang lain. Ia seperti tidak punya daya saing dan daya juang untuk sesuatu yang lebih tinggi. Ia kalah duluan sebelum bertanding. Dalam pergaulan sehari-hari ia selalu diwarnai dengan perasaan depresi dan rendah diri. Ia gampang putus asa, meskipun sering mendengarkan ayat: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Zumar/39:53).

Ia terlalu mengkhawatirkan apa kata orang terhadap dirinya, sangat sensitive terhadap setiap perubahan yang terjadi di sekitarnya. Ia juga bersikap sombong untuk menutupi perasaannya yang fluktuatif, tidak menentu, dan tenteram. Ia suka sekali berkamuflase, memuji diri, atau menunjuk kelebihan anggota keluarga dekatnya. Orang ini perlu diwaspadai karena gampang melakukan jalan pitas dengan berbagai cara, termasuk mengkonsumsi obat-obat penenang dan obat-obat terlarang, seperti narkoba. Bahkan bisa nekad dengan bunuh diri atau membunuh orang lain. Ia mudah cemburu jika orang-orang terdekatnya sukses, suka melanggar komitmen, lebih tertarik mengurus dirinya sendiri dan tiding mau share dengan orang lain. Ia sering bersikap tidak jujur pada dirinya sendiri, apalagi terhadap orang lain. Ia selalu menyalahkan orang lain sekalipun nyata-nyata ia yang salah. Sering ia mengucapkan kata-kata sembrono dan tidak senono, walaupun ia menyadari dan menyesali sendiri. Ia menunggu segalanya berubah untuk dirinya, bukan bagaimana dirinya mengubah segalanya.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)