Megawati Dewan Pengarah BRIN, PDIP: Riset-Inovasi Harus Digerakkan Ideologi

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Rabu, 13 Okt 2021 17:53 WIB
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). PDIP menyebut Megawati sebagai penggagas awal BRIN kepada Jokowi.

PDIP mengucapkan selamat dan bangga Jokowi melantik Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Bappenas Suharso Monoarfa sebagai Wakil Ketua. Sudhamek Agung Waspodo Sunyotosebagai Sekretaris, dan sebagai anggota adalah Emil Salim, I Gede Wenten, Bambang Kesowo, Adi Utarini,Marsudi Wahyu Kisworodan, dan Tri Mumpuni.

"Karena riset dan inovasi harus digerakkan oleh ideologi bangsa agar Indonesia benar-benar berdaulat, berdikari, dan bangga dengan jati diri kebudayaannya. Kebijakan pembangunan pun harus berlandaskan pada riset dan inovasi ilmu pengetahuan serta teknologi, yang berpedoman pada ideologi Pancasila," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangannya, Rabu (13/10/2021).

PDIP mendukung keputusan Jokowi menempatkan BRIN sebagai infrastruktur kemajuan bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai ketentuan perundang-undangan yang menempatkan Ketua Dewan Pengarah BPIP ex-officio sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN sebagai keputusan tepat.

"Selama ini Ibu Megawati sangat konsisten menyuarakan pentingnya penguasaan ilmu-ilmu dasar, riset, dan inovasi dan terus memperjuangkan peningkatan anggaran penelitian 5 persen dari PDB. Ibu Megawati juga penggagas awal dari BRIN, dengan mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar BRIN hadir menjabarkan politik Indonesia Berdikari, dengan memfokuskan diri pada penelitian untuk manusia Indonesia, flora, fauna dan teknologi itu sendiri," ujar Hasto.

"Kepedulian Ibu Megawati itu merupakan bentuk dukungan yang konkret untuk pengembangan riset dan inovasi nasional yang memang memerlukan sumber daya finansial yang besar. Selain itu, dalam perspektif geopolitik, riset dan inovasi juga sangat penting di dalam membangun kekuatan pertahanan melalui penguatan kapabilitas industri pertahanan dengan semangat percaya pada kekuatan sendiri," imbuhnya.

Riset dan inovasi, menurut Hasto, kunci perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan sebuah bangsa. Dengan menyatukan berbagai lembaga riset dalam satu kapal dengan satu nakhoda, diharapkan tidak terjadi lagi duplikasi riset dan kesimpangsiuran tata kelola riset di Indonesia.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: