Anies Pimpin Apel Kesiapsiagaan Hadapi Musim Hujan di Jakarta

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Rabu, 13 Okt 2021 09:19 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. (Tiara/detikcom)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Dalam apel tersebut, Anies bicara soal antisipasi menghadapi cuaca ekstrem.

Apel diikuti 1.408 personel gabungan dari jajaran Pemprov DKI, Kepolisian, hingga TNI yang digelar di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (13/10/2021). Apel ini turut dihadiri jajaran Forkopimda, di antaranya Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, Pangdam Jaya Mayjen TNI Mulyo Aji, dan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Hendro Pandowo.

"Ibu kota kita, Jakarta, secara topografis berada di daratan yang rendah. Posisi kita memang rendah. Di sisi selatan ada pegunungan dan di sisi utara ada lautan. Karena itu, seluruh peserta apel yang hadir pada pagi hari ini, saya ingin memesankan beberapa butir untuk jadi perhatian. Pertama tentang front yang kita hadapi," kata Anies, Rabu (13/10/2021).

Anies menuturkan front pertama adalah banjir rob yang bisa terjadi di kawasan pesisir utara Jakarta. Anies menjelaskan kondisi hujan membuat aliran sungai menjadi deras dan akan bertemu dengan permukaan air laut yang meninggi.

"Di situ diperlukan kerja ekstra untuk bisa memompa untuk bisa memastikan bahwa air sungai di muara bisa mengalir dengan baik dan masyarakat di utara terhindar dari potensi rob, ini front pertama di muara," jelasnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan.Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memimpin apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. (Tiara/detikcom)

Selanjutnya, sisi selatan Kota Jakarta yang merupakan kawasan pegunungan menjadi front kedua yang mesti diwaspadai. Di kawasan ini, sebutnya, dilewati aliran 13 sungai.

"13 sungai ini memiliki kapasitas daya tampung air, besarnya 2.300 meter kubik, itu daya tampung seluruh sungai kita. Apabila air yang mengalir akibat hujan deras masuk ke Jakarta sampai dengan 2.300 meter kubik per detik, maka kita bisa menampungnya. Ini front kedua yang harus kita antisipasi bila hujan lebat," terangnya.

Front terakhir, potensi hujan lebat di dalam kota. Anies menuturkan perubahan iklim menyebabkan terjadinya hujan lebat hingga ekstrem meskipun durasi hujannya sebentar.

"Front ketiga di dalam kota. Hujan bisa terjadi amat deras, dan dengan perubahan iklim yang kita rasakan dua tiga dekade terakhir, kita memastikan bahwa musim penghujan dan musim kemarau tidak lagi bisa ditandai dengan lebatnya hujan," ujarnya.

"Saya sampaikan kapasitas kita 100 milimeter per hari kalau hujannya itu merata sepanjang 24 jam maka sistem kita sanggup menampung. Tapi bila turun seperti kemarin 370 mm turun dalam waktu 5 jam maka bisa dibayangkan itu volume air yang turun dalam waktu yang amat singkat itu ekstrem," sambungnya.

Kepada personel gabungan, Anies berpesan seluruh jajaran bersiaga terhadap segala kemungkinan. Bahkan, Anies meyakini bisa saja personel gabungan menghadapi tiga kondisi ini di waktu bersamaan.

"Dari tiga front ini, semuanya harus kita hadapi. Mungkin bersamaan, ada masanya kita berhadapan dengan front pertama saja, di utara terjadi rob tidak ada hujan tidak ada kiriman air. Tapi bisa terjadi di sisi selatan terjadi hujan lebat sehingga air masuk ke Jakarta, di saat yang sama Jakarta turun hujan lebat sehingga drainase kita dipenuhi air dan di sisi utara terjadi kenaikan permukaan air laut. Itu kondisi yang harus kita antisipasi," ucapnya.

(taa/idn)