Masih Pandemi, 3 Pilar Pengendalian COVID-19 Terus Diperkuat

Jihaan Khoirunnissa - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 22:42 WIB
Sejumlah pengungsi mengantre untuk mendapatkan vaksin yang diselenggarakan di GOR Bulungan, Jakarta, Kamis (7/10/2021). Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) DKI Jakarta dan UNHCR menyelenggarakan kegiatan vaksinasi Covid-19 untuk para Warga Negara Asing (WNA) pengungsi dan pencari suaka yang berdomisili di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Upaya pengendalian COVID-19 di Indonesia menunjukkan hasil positif. Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap waspada.

Dalam Dialog Semangat Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9), Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19 Alexander Ginting menyebut perkembangan angka positivity rate COVID-19 secara nasional saat ini berada di bawah 2%. Sementara untuk tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) berada di bawah 10%.

"Namun virus tetap ada sehingga program pengendalian harus terus dilaksanakan. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih akan terus digunakan sebagai instrumen pengendalian, berdampingan dengan 3M, 3T, dan vaksinasi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (12/10/2021).

Menurutnya, pelaksanaan 3 pilar pengendalian COVID-19, yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun (3M), percepatan vaksinasi, serta penguatan testing, tracing, treatment (3T) di lapangan akan terus diperkuat. Hal ini guna memastikan pandemi tetap terkendali.

Alexander menilai keberhasilan PPKM tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, terutama pemerintah dan masyarakat. Penerapan PPKM akan mengawal dan menjaga masyarakat, sehingga pemulihan kesehatan bisa seiring dengan pemulihan ekonomi, serta sosial budaya dan pendidikan.

"Pembukaan kegiatan yang kita lakukan adalah kelonggaran yang terkendali. Protokol kesehatan juga menjadi bagian dari kehidupan kita, sampai pandemi kelak dicabut. Selain itu, masih ada tugas untuk meningkatkan cakupan vaksinasi agar tidak ada yang tertinggal, termasuk kaum disabilitas dan lansia," tuturnya.

Alexander juga mengingatkan, tracing kontak harus terus dilakukan. Masyarakat yang memiliki kontak erat harus menjalani karantina untuk mencegah penularan. Ia mengatakan isolasi terpusat lebih baik ketimbang isolasi mandiri yang berisiko membuat transmisi keluarga.

"Kendati kondisi membaik, pemerintah, rumah sakit, posko PPKM, pusat isolasi, semua pihak harus tetap siaga dan bekerja bersama agar tidak terjadi lonjakan kasus," tuturnya.

Sementara itu, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata menekankan pentingnya mempertahankan kewaspadaan. Ia mengimbau agar pemerintah daerah tidak terjebak pada pencapaian angka dan penurunan level.

"Fokus paling utama adalah melindungi warga. Salah satu tantangan kita saat ini adalah euforia masyarakat terhadap kelonggaran dan penurunan level. Kerja kita belum selesai, sehingga semua upaya 3M, 3T, vaksinasi harus terus dilakukan, termasuk edukasi kepada masyarakat. Komponen mana yang sulit, desa mana yang rendah, kita lakukan komunikasi," ujarnya.

Untuk mendorong masyarakat melakukan vaksinasi, Jeje menyebut pihaknya telah menyebar undangan vaksinasi kepada masyarakat. Upaya ini di samping melakukan pendekatan bersama dengan tokoh agama dan tenaga kesehatan agar mencegah munculnya pemahaman keliru soal vaksinasi.

Ia menjelaskan pihaknya akan memperkuat testing di pusat-pusat keramaian, seiring dengan pembukaan kegiatan masyarakat seperti di sekolah, tempat wisata, pasar dan tempat ibadah. Lebih rinci, ia menyebut telah menerapkan beberapa strategi guna menekan penularan COVID-19 di lokasi wisata.

Beberapa di antaranya dengan memastikan wisatawan dan pelaku wisata telah divaksinasi, mengatur agar tidak terjadi kerumunan, menerapkan disiplin masker, serta evaluasi dan koordinasi dengan penyelenggara lokasi wisata atau penginapan.

Di sisi lain, Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Lia G. Partakusuma mengatakan telah menginstruksikan rumah sakit untuk tetap siaga. Ia juga meminta agar tempat tidur untuk COVID-19 disiapkan dan melakukan pemisahan antara pasien yang terinfeksi dan tidak.

"Mulai September dan awal Oktober, kami membuka layanan untuk pasien non-COVID-19 yang sudah cukup lama menunggu. Tugas berat untuk memisahkan alur pasien, agar pasien non-COVID19 ini aman, sehingga ada ketentuan ketat untuk skrining di rumah sakit," terangnya.

Lia menuturkan, perkembangan virus corona masih sangat dinamis. Karena itu, upaya menemukan varian mutasi virus pun terus dilakukan, terutama ketika ditemukan gejala klinis yang berbeda.

"Jangan euforia karena merasa sudah divaksin dan COVID-19 di Indonesia terkendali. Belajar dari negara tetangga, terjadinya lonjakan kasus harus selalu diwaspadai," tandasnya.

(ega/ega)