Polri Dalami Penyebar Identitas Keluarga Korban Kasus 'Ayah Perkosa 3 Anak'

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 22:16 WIB
Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono
Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono (Foto: Adhyasta Dirgantara/detikcom)
Jakarta -

Identitas keluarga korban di kasus dugaan pencabulan anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) diduga bocor dan viral di media sosial. Polri mendalami sosok yang diduga membocorkan identitas keluarga korban itu.

"Nanti kita dalami, ya. Kita dalami," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (12/10/2021).

Dugaan bocornya data identitas keluarga korban di kasus 'ayah perkosa 3 anak' itu awalnya disebarkan di Twitter oleh akun bernama @mollynyan12. Dia membeberkan bahwa identitas korban yang tertuang dalam hasil visum dengan mudah bocor ke publik.

"Hasil visum yg hrsnya ranah privasi, semudah itu diberikan akses ke buzzer. Bahkan pelapor (ibu korban) ditantang untuk sebar video/foto jg. Ini anak2 loh yg jd korban. Ngeri bgt data, privasi, harkat martabat kita sbg manusia ga ada harganya di tgn aparat. #PercumaLaporPolisi," tulis akun tersebut.

Akun Twitter itu juga mencantumkan foto-foto surat yang diduga sebagai hasil asesmen hingga hasil visum korban. Belum jelas siapa penyebar dari surat-surat hasil pemeriksaan tersebut.

Tweet tersebut juga menjadi viral di medsos dengan rincian 1.583 likes dan 1.120 retweet.

Sebelumnya, Mabes Polri menjelaskan soal 'ayah perkosa 3 anak' di Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, yang ramai jadi sorotan. Polri menyatakan ibu korban, RS, melaporkan mantan suaminya atas dugaan pencabulan, bukan pemerkosaan.

"Penyidik menerima surat pengaduan dari saudari RS pada tanggal 9 Oktober 2019. Isi surat pengaduan ini, yang bersangkutan melaporkan bahwa diduga telah terjadi peristiwa pidana yaitu perbuatan cabul," kata Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono, Selasa (12/10).

Hal itu didapatkan setelah Tim dari Mabes Polri dan Polda Sulsel melakukan audiensi dan asistensi.

"Tim telah turun pada tanggal 10 kemarin. Ada tim dari Bareskrim Polri, selain itu juga ada Divisi Propam Polri, dan juga tim Polda Sulsel," katanya.

Dia mengatakan temuan ini sekaligus meluruskan pembahasan yang terjadi di dunia maya.

"Sekali lagi, dalam surat pengaduan tersebut, Saudari RS melaporkan diduga telah terjadi peristiwa perbuatan cabul. Jadi bukan perbuatan tindak pidana perkosaan seperti yang viral di media sosial dan menjadi perbincangan publik," jelasnya.

Rusdi mengatakan, tak lama setelah laporan itu dibuat, ketiga anak yang diduga menjadi korban pun menjalani visum di Puskesmas Malili. Hasil visum diterima pada 15 Oktober 2019.

"Lalu dilakukan interview terhadap dr Nurul pada 11 Oktober 2021. Hasil interview, dr Nurul menyatakan bahwa hasil pemeriksaannya tidak ada kelainan pada organ kelamin dan dubur korban," katanya.

(drg/dwia)