Pemulihan Kesehatan Fisik-Mental Akibat Pandemi Diharap Konsisten

Erika Dyah - detikNews
Minggu, 10 Okt 2021 17:05 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan tren penurunan kasus positif COVID-19 di Indonesia terus berlanjut. Untuk itu, ia berharap pemulihan dampak pandemi di berbagai sektor dapat dilakukan secara tepat dan konsisten agar bangsa Indonesia mampu menjawab tantangan di masa mendatang baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan fisik dan mental.

"Dampak kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat yang berlangsung hampir dua tahun ini cukup besar, karena itu berbagai upaya pemulihannya di sejumlah sektor harus tepat dan konsisten dilakukan," kata Lestari dalam keterangannya, Minggu (10/10/2021).

Berdasarkan data Satgas COVID-19, hingga Sabtu (9/10) 4,22 juta orang terkonfirmasi COVID-19 dengan jumlah orang meninggal sebanyak 142.612 kasus. Lestari mengatakan, data ini menunjukkan adanya jutaan keluarga terdampak langsung dan puluhan juta keluarga lainnya yang secara tidak langsung terdampak COVID-19.

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah mengambil kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat dalam rangka pencegahan penyebaran virus Corona yang bisa berdampak pada ekonomi rakyat.

Sementara itu, mengutip catatan Kantor Menko Perekonomian, Lestari mengungkap realisasi anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) hingga 24 September 2021 telah mencapai Rp404,7 triliun atau 54,3% dari pagu Rp744,77 triliun.

Perempuan yang akrab disapa Rerie ini mengatakan, secara ekonomi pemerintah sudah mengalokasikan dana untuk menggerakkan sejumlah program pemulihan. Adapun realisasinya saat ini baru tercapai separuh dari target.

Ia menjelaskan bantuan yang diberikan pemerintah dalam program pemulihan ini beragam bentuknya, mulai dari pemberdayaan ekonomi keluarga, bantuan sosial, hingga bantuan terhadap korporasi terdampak.

Lebih lanjut, Lestari pun menegaskan bahwa dampak pandemi tak sebatas pada sisi ekonomi saja. Akan tetapi juga berdampak pada psikologis atau kejiwaan masyarakat.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini menyebutkan, dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2021 yang jatuh hari ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyinggung soal dampak pandemi COVID-19 yang dinilai memberi dampak serius pada kesehatan mental seseorang.

Menambahkan data tersebut, Lestari mengatakan Kementerian Kesehatan mencatat bahwa saat ini 20% penduduk Indonesia memiliki potensi masalah gangguan jiwa. Artinya, satu dari lima penduduk berisiko mengalami gangguan jiwa.

Rerie menyebutkan masyarakat masih menemui keterbatasan permasalahan karena terbatasnya pengetahuan dalam mengenali gejala-gejala gangguan jiwa. Padahal, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan hotline 119 dengan ekstension 9 untuk layanan konsultasi kesehatan jiwa.

Ia pun menilai ketersediaan rumah sakit yang menangani kesehatan jiwa di sejumlah daerah masih terbatas. Sehingga, tidak semua orang dengan gangguan jiwa bisa mendapat pengobatan yang semestinya.

Untuk itu, ia berharap para pemangku kepentingan di pusat maupun daerah dapat berkolaborasi dengan baik dalam upaya mengatasi dampak COVID-19. Baik dari sisi ekonomi serta kesehatan fisik dan mental. Ia pun menegaskan keberhasilan upaya pemulihan di berbagai sektor pascapandemi sangat menentukan langkah bangsa ini di masa datang.

(ega/ega)