Hoaks Kian Marak, Jazilul Fawaid: Mari Gunakan Medsos dengan Baik

Erika Dyah - detikNews
Minggu, 10 Okt 2021 16:46 WIB
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan di era modern ini kehidupan masyarakat tidak bisa dilepaskan dengan digitalisasi. Meski demikian ia menilai berkembangnya penggunaan teknologi informasi, khususnya media sosial (medsos) menimbulkan persoalan baru dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kegiatan sosialisasi 4 Pilar di SMA Bina Putera, Kopo, Serang, Banten pada Jumat (8/10), Jazilul mengatakan dalam beberapa tahun belakangan semakin marak penyebaran berita hoaks (palsu), fitnah, dan ujaran kebencian di medsos.

"Seluruh kebutuhan kita, apakah untuk berdagang, mengajar, transaksi bahkan apapun jenis aktivitasnya, kini tidak luput dengan dunia digital. Oleh sebab itu, mari kita gunakan medsos dengan baik. Sekarang ini banyak sekali berita hoaks, fitnah banjir di medsos. Kita harus mampu menyaring informasi. Kalau tidak, itu akan menjadi masalah bagi bangsa ini," ujar Jazilul dalam keterangannya, Minggu (10/10/2021).

Jazilul menambahkan, para guru di sekolah juga harus memberikan pengajaran literasi digital kepada para anak didik soal bagaimana menggunakan teknologi informasi. Khususnya, terkait penggunaan medsos yang baik.

"Bagaimana mereka bisa memilah informasi yang palsu, hoaks, dan informasi yang produktif bagi anak-anak, ini perlu ada pengarahan dari para guru," katanya.

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan medsos ibarat dua sisi mata pisau yang bisa menimbulkan dampak positif di satu sisi, dan dampak negatif di sisi lainnya.

"Kita harus arahkan agar anak-anak bisa menjadikan medsos ini sesuatu yang positif. Sebab, saat ini anak muda di mana saja semua menggunakan medsos. Kita perlu bimbing penggunaannya, dan konten-konten seperti apa yang layak untuk dibuka," urainya.

Pria yang akrab disapa Gus Jazil ini pun menjelaskan kepada para Siswa SMA Bina Putera bahwa 4 Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 merupakan pilar-pilar penyangga negeri ini.

"Kalau 4 Pilar ini roboh atau salah satu roboh, maka Indonesia juga roboh. Tugas kita bersama agar 4 Pilar ini diperkuat. Pancasila mengandung nilai-nilai dan menjadi pandangan hidup, tapi belum tentu kita bisa dalam implementasinya," paparnya.

Lebih lanjut, Jazilul menjelaskan tentang perasan dari Pancasila yakni nilai gotong royong. Menurutnya, gotong royong pelan-pelan mulai dilupakan dan seolah sudah diganti dengan kata 'demokrasi'.

"Gotong royong seakan-akan hanya kerja bakti. Padahal gotong royong adalah kalimat keramat yang dimiliki bangsa ini dan bisa menyatukan pandangan agama, suku bangsa, adat istiadat dalam satu kata yakni gotong royong. Ini inti kehendak dan cita-cita bangsa," tuturnya.

Selain itu, ia pun menyebutkan sering kali pembenturan antara agama dengan negara atau antara Islam dengan Pancasila. Padahal, hal tersebut merupakan suatu hal yang sudah menyatu.

"Tinggal kita wujudkan dalam gerak hidup kita sehari-hari, dalam aktivitas kita, dalam kita membangun hubungan dan mewujudkan apa yang kita cita-citakan," ucap Jazilul.

Ia menilai dengan adanya perkembangan teknologi informasi, ke depannya perlu ada kreativitas terkait cara menyebarkan 4 Pilar. Baik melalui media digital, game, cerita, atau menggunakan gambar animasi sehingga 4 Pilar dapat lebih mengena kepada kalangan generasi muda.

"Bagi anak-anak ini penting daripada metode ceramah-ceramah. Dan yang tidak kalah penting metode keteladanan. Anak-anak muda ini butuh keteladanan, contoh. Siapa figur yang pancasilais? Pertama ya gurunya karena anak-anak mencontoh gurunya. Dan para guru mencontoh pemimpinnya," paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala SMA Bina Putera, Dirjo mengatakan upaya peningkatan literasi digital terus dilakukan di sekolahnya agar para siswa bisa memilah informasi yang layak untuk dicerna.

"Kita terus melakukan peningkatan literasi digital. Kita selalu tekankan guru-guru agar bisa mendampingi mereka," pungkasnya.

(ega/ega)