LaNyalla Nilai Keadilan Sosial Sulit Terwujud karena Kekuatan Modal

Khoirul Anam - detikNews
Minggu, 10 Okt 2021 00:05 WIB
Ketua DPD RI LaNyalla Mattalitti
Foto: DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD LaNyalla Mahmud Mattalitti mengaku sudah ke seluruh Indonesia untuk mendengar aspirasi di daerah. Menurutnya inti dari permasalahan yang ada di daerah cenderung sama.

Hal itu disampaikannya di hadapan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Semarang (UNES) saat membahas 'Aktualisasi Nilai Kebangsaan dalam Merajut Kebhinekaan' pada hari ini.

"Dari perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia tersebut, saya menemukan satu kesimpulan, mengapa hampir semua permasalahan di daerah sama. Mulai dari persoalan sumber daya alam daerah yang terkuras, hingga kemiskinan di daerah. Setelah saya petakan, ternyata akar persoalannya ada di hulu, bukan di hilir. Akar persoalan yang ada di hulu adalah ketidakadilan sosial," kata Senator asal Jawa Timur ini dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/10/2021).

Ia menjelaskan, keadilan sosial sulit terwujud karena adanya kekuatan modal dan kapital dari segelintir orang untuk mengontrol dan berkuasa. Hal ini, kata dia, sering disebut dengan istilah oligarki.

"Di mana oligarki dibangun atas dasar kekuatan modal kapital yang tidak terbatas, sehingga mampu menguasai dan mendominasi simpul-simpul kekuasaan. Dan kemudian oligarki beroperasi dalam kerangka kekuasaan yang menggurita secara sistemik," katanya.

Mantan Ketua Umum PSSI itu menjelaskan, hal ini bisa terjadi karena adanya peluang melalui konstitusi dan undang-undang untuk terjadinya dominasi dari pemilik modal untuk menguasai dan menguras kekayaan negara.

"Oleh karena itu, DPD berpendapat bahwa wacana amandemen perubahan kelima konstitusi kita yang kini tengah bergulir harus menjadi momentum untuk melakukan koreksi atas arah perjalanan bangsa ini. Kita harus berani melakukan koreksi atas sistem tata negara Indonesia, termasuk sistem ekonomi negara ini. DPD akan sekuat tenaga memperjuangkan hal itu," katanya.

Menurutnya, jika hal tersebut dapat terwujud, Indonesia akan kembali dalam suasana kebatinan untuk membangun bangsa.

"Tentunya dengan semangat yang sama, seperti yang dilakukan para pendiri bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dengan semangat anti penjajahan dalam wujud apa pun," tukasnya.

Menurut LaNyalla, alasan itu yang membuat ia datang ke berbagai kampus untuk menggugah kesadaran publik.

"Kita ingin memantik pemikiran kaum terdidik dan para cendekiawan agar terbangun dalam suasana kebatinan yang sama, yaitu untuk memikirkan bagaimana Indonesia ke depan lebih baik," katanya

(prf/ega)