ADVERTISEMENT

Di Hadapan BEM UNES, Ketua DPD Bahas Kebangsaan & Amandemen UUD

Khoirul Anam - detikNews
Sabtu, 09 Okt 2021 23:40 WIB
Ketua DPD: RI Lahir dari Peradaban Kerajaan dan Kesultanan Nusantara
Foto: Dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menyoroti masalah kebangsaan hingga pentingnya melakukan amandemen konstitusi. Hal ini disampaikan di hadapan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Semarang (UNES) dalam kegiatan bertema 'Aktualisasi Nilai Kebangsaan dalam Merajut Kebhinekaan'.

"Saya senang dan bangga, kampus dan para mahasiswa masih mau membicarakan salah satu persoalan fundamental bangsa ini, yaitu nilai kebangsaan dan kebinekaan," tuturnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/10/2021).

LaNyalla menjelaskan, nilai kebangsaan dan kebinekaan mulai mengalami kelunturan, bahkan mengalami perubahan makna, fungsi, dan sekadar jargon politik.

"Padahal nilai-nilai kebangsaan penting untuk dibumikan. Karena, nilai-nilai kebangsaan adalah jati diri bangsa sekaligus benang merah untuk melihat sejarah lahirnya bangsa dan negara ini," katanya.

Ia menegaskan, akan terjadi kebangsaan semu jika nilai-nilai Pancasila berubah makna dan tidak sejalan dengan bunyi pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar yang telah mengalami 4 kali perubahan pada 1999 hingga 2002 lalu.

"Kebangsaan semu akan terjadi bila kebinekaan hanya diwujudkan dengan keberagaman yang semu melalui acara-acara seremonial. Dan ini adalah nilai kebangsaan yang palsu, yang hanya sebatas etalase dan jargon," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Pancasila merupakan karya luhur yang luar biasa dari para pendiri bangsa.

"Saya akui itu. Oleh karena itu, kita bersyukur bahwa bangsa ini telah bersepakat untuk tidak mengubah isi pembukaan undang-undang dasar, yang di dalamnya terkandung Pancasila. Saya sering katakan di beberapa kesempatan bahwa bila Pancasila kita terapkan dengan benar dan konsekuen, maka negara ini akan menjadi negara yang besar. Karena memang Pancasila adalah way of life yang paling tepat dan sesuai dengan DNA bangsa Indonesia," urainya.

Namun, lanjut LaNyalla, jika Pancasila hanya dibacakan dalam kegiatan upacara bendera dan peringatan hari kelahiran Pancasila, maka Pancasila ibarat raga tanpa jiwa.

"Apalagi jika kita lihat dan cermati isi amandemen konstitusi yang terjadi di tahun 1999 hingga 2002 silam, di mana kita telah mengubah banyak pasal, yang nyaris tidak nyambung lagi dengan nilai-nilai dan butir-butir Pancasila sebagai ideologi bangsa," katanya.

Mantan Ketua Umum PSSI ini menjelaskan, sejak amandemen tersebut Indonesia seolah terlepas dari DNA asli bangsa karena suara atau pendapat hanya dihitung sebagai angka melalui voting di Parlemen dan Pemilu.

"Masalahnya, kita seolah tidak punya lagi ruang untuk musyawarah. Karena hanya akan berakhir dengan perdebatan dan deadlock, bahkan bisa berujung ke pengadilan," jelasnya.

Alumni Universitas Brawijaya itu mengatakan DPD akan mendapatkan dorongan energi jika mahasiswa Indonesia menjadikan agenda amandemen konstitusi sebagai momentum untuk melakukan koreksi atas arah perjalanan bangsa. Menurutnya, gerakan strategis dan taktis dari mahasiswa dibutuhkan.

"Karena itulah, saya sering datang ke kampus-kampus untuk menggugah kesadaran publik. Untuk memantik pemikiran kaum terdidik dan para cendekiawan agar terbangun dalam suasana kebatinan yang sama, yaitu untuk memikirkan bagaimana Indonesia ke depan lebih baik. Agar Indonesia bisa menjadi negara seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Bukan negara dengan mazhab kapitalisme liberal," katanya.

(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT