Bamsoet Minta Gerakan Pemuda Marhaen Ajak Anak Muda Tekuni Pertanian

Erika Dyah - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 21:16 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menekankan pandemi COVID-19 harus membuka mata semua pihak untuk kembali memberikan perhatian serius terhadap peningkatan sektor pertanian. Sebab, sektor yang selama ini cenderung diabaikan ini justru menjadi satu-satunya sektor yang tetap tumbuh positif di tengah pandemi.

Bamsoet menjelaskan saat sektor ekonomi nasional lain mengalami kontraksi hebat pada kuartal II/2020, sektor pertanian tumbuh positif dengan menyumbang 15,46 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Angka pertumbuhannya meningkat sebesar 12,84 persen dari kuartal I/2020.

Pada triwulan II/2021, pertumbuhan sektor pertanian juga menjadi yang tertinggi di antara berbagai sektor lapangan usaha lainnya. Pertumbuhannya mencapai 12,93 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Bahkan, sektor pertanian juga berkontribusi sebesar 14,27 persen terhadap PDB Nasional.

"Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) yang mengusung semangat Marhaenisme Bung Karno, harus turut berpartisipasi dalam mengajak kalangan muda menekuni sektor pertanian. Mengingat spirit perjuangan Marhaenisme, dilahirkan oleh Bung Karno karena terinspirasi dari hasil pertemuannya dengan seorang petani yang bernama Marhaen, di Kota Bandung pada periode tahun 1920-an," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (8/10/2021).

Saat bertemu Pengurus DPP Gerakan Pemuda Marhaen (GPM), Bamsoet menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 juga berdampak pada pergeseran tenaga kerja. Tingginya angka pemutusan hubungan kerja membuat banyak tenaga kerja perkotaan memilih kembali ke desa, mengembangkan usaha pertanian.

BPS mencatat, tenaga kerja pertanian pada Agustus 2019 mencapai 36,71 juta orang. Jumlahnya meningkat menjadi 41,13 juta orang pada Agustus 2020.

"Momentum peningkatan tersebut harus dijaga oleh pemerintah, antara lain dengan menjaga kondusivitas usaha pertanian agar tetap mampu bersaing dengan berbagai sektor usaha lainnya. Sehingga mereka yang sudah terjun ke sektor pertanian, tidak lagi memilih kembali mencari pekerjaan lain di perkotaan," jelas Bamsoet.

Menurut Bamsoet, bertambahnya tenaga kerja sektor pertanian tidak lantas membuat berbagai permasalahan di sektor pertanian terpenuhi. Sebab, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, salah satunya terkait kemiskinan.

Ia menyebutkan, hingga September 2020, sebanyak 46,3 persen rumah tangga miskin bekerja di sektor pertanian. Selain itu, 73,01 persen tenaga kerja sektor pertanian memiliki tingkat pendidikan tertinggi sekolah dasar, dengan mayoritas berusia di atas 45 tahun.

"Padahal, kita memiliki ratusan perguruan tinggi yang melahirkan ratusan lebih sarjana pertanian tiap tahunnya. Namun mereka tidak otomatis bekerja di sektor pertanian. Salah satu faktornya, lantaran rendahnya penghasilan dan tingkat kesejahteraan yang diperoleh," ujar Bamsoet.

Mengutip Data BPS, Bamsoet mengatakan rata-rata pendapatan bersih yang diperoleh seorang yang berusaha di sektor pertanian adalah Rp 1,34 juta per bulan.

"Sedangkan bagi mereka yang bekerja sebagai pekerja bebas di sektor pertanian, rata-rata pendapatan bersih yang diperoleh selama sebulan hanya sekitar Rp 1,05 juta. Lebih rendah dari rata-rata upah buruh nasional yang mencapai Rp 2,86 juta per bulan," pungkasnya.

Sebagai informasi, pertemuan Bamsoet bersama DPP Gerakan Pemuda Marhaen turut dihadiri oleh anggota DPD RI Provinsi Bali Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, Ketua Umum Heri Satmoko, Sekjen Didik Supandri, Bendahara Boris Aruan, dan Ketua Kongres X GPM Joko Supeno.

(fhs/ega)