Round-Up

Narasi 'Densus 88 Bubar' Digemborkan Fadli Zon Tuai Kontroversi

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 06:50 WIB
Jakarta -

Anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon melemparkan narasi 'Densus 88 bubar' di akun Twitter resminya, @fadlizon. Baik Densus 88 Antiteror Polri dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) merespons cuitan Fadli.

"Terima kasih informasinya. Akan kami pelajari," kata Kabag Banops Densus 88 Kombes Aswin Siregar saat dikonfirmasi, Rabu (6/10/2021).

Berikut isi cuitan Fadli Zon:

Narasi semacam ini tak akan dipercaya rakyat lagi, berbau Islamifobia. Dunia sudah berubah, sebaiknya Densus 88 ini dibubarkan saja.

Dalam cuitan itu, Fadil juga men-quote tweet sebuah berita. Berita itu berjudul 'Densus 88 Klaim Taliban Menginspirasi Teroris Indonesia'.

Fadli mengatakan teroris memang harus tetap diberantas. Dia meminta jangan sampai teroris justru dijadikan komoditas.

"Teroris memang harus diberantas, tapi jangan dijadikan komoditas," tambahnya di tweet tersebut.

Kompolnas mengaku kaget melihat dengan cuitan Fadli Zon. Menutur Kompolnas, narasi 'Densus 88 bubar' biasanya diserukan kelompok teroris atau kelompok radikal.

"Selama ini narasi-narasi yang menyatakan Densus 88 harus dibubarkan adalah narasi-narasi dari kelompok teroris dan kelompok radikal, sehingga menyesatkan dan sangat berbahaya jika seorang anggota Dewan mendukung narasi tersebut," ucap Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti kepada wartawan, Kamis (7/10).

Poengky menegaskan Kompolnas selalu mengapresiasi kinerja Densus 88 yang profesional. Dia menekankan Densus 88 adalah salah satu detasemen antiteror terbaik di dunia.

"Kompolnas sebagai pengawas fungsional Polri, termasuk Densus 88 di dalamnya, sangat mengapresiasi kinerja Densus 88 yang sangat efektif dan profesional. Densus 88 sejak didirikan hingga saat ini, sudah berhasil menegakkan hukum terhadap para teroris di Indonesia. Dan bahkan dengan prestasinya, Densus 88 adalah salah satu detasemen antiteror terbaik di dunia," imbuh Poengky.

Poengky mengatakan permintaan Fadli Zon agar Densus 88 bubar sangat tidak berdasar. Terlebih, kata Poengky, Fadli tidak masuk ke dalam komisi DPR yang menjadi mitra pengawas Polri.

"Bagi kami, statement tersebut sangat tidak berdasar. Tidak didukung data, tidak didukung penelitian, dan ahistoris. Apalagi Bapak Fadli Zon tidak masuk dalam komisi yang menjadi mitra atau pengawas Polri," jelasnya.

"Ahistoris itu maksudnya tidak melihat sejarah. Artinya, ucapan Fadli Zon tidak melihat selama ini Densus 88 secara profesional mengungkap dan memproses hukum kasus-kasus teroris di Indonesia sejak kasus Bom Bali 1 di tahun 2003 hingga kasus-kasus teroris yang terjadi saat ini," sambung Poengky.

Fadil Minta Kompolnas Introspeksi

Fadli Zon beraksi keras atas pernyataan Kompolnas. Dia menyebut situasi saat ini berubah.

"Kompolnas yang harus introspeksi dan banyak membaca. Membaca buku dan situasi dunia yang berubah," jawab Fadli.

"Kunci keberhasilan pemberantasan teroris adalah tak ada teroris lagi," sambung dia.

Fadli menilai Indonesia memiliki banyak lembaga negara yang mengurusi terorisme. Oleh sebab itu menurutnya Densus 88 lebih baik dibubarkan.

"Kini terlalu banyak lembaga yang tangani terorisme. Padahal cukup sudah ada BNPT, ada BIN, ada Koopsus, dan lain-lain. Kita harus melihat RI sebagai negara bebas teroris jangan dipelihara," ungkap Fadli Zon.

"War on terror sudah selesai oleh AS ketika menarik mundur pasukan AS 31 Agustus kemarin," imbuh mantan pimpinan DPR periode lalu itu.

Fadli menyebut teroris sesungguhnya ialah yang menginginkan teroris terus eksis di negeri ini.

"Yang ingin terus ada teroris di Indonesia itulah teroris sesungguhnya. Merusak negara. Orang takut investasi dan pariwisata," kata Fadli Zon.

(aud/aud)