Kontemplasi Qalbu (8)

Menjadi Proaktif

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 04:44 WIB
Nasaruddin Umar
Foto: Ilustrasi Mindra Purnomo
Jakarta -

Manusia efektif ialah manusia yang proaktif. Manusia reaktif tidak akan pernah menjadi manusia efektif. Karena itu, Agama memotivasi setiap orang untuk menjadi manusia efektif. Islam selalu menyerukan kepada pemeluknya untuk hijrah dari sikap dan karakter reaktif ke sikap dan karakter proaktif, sebagaimana ditunjukkan dan dicontohkan Rasulullah Saw. Banyak ayat dan hadis menyerukan manusia untuk bersikap proaktif, yang ditandai dengan pendisiplinan diri, khususnya menghargai waktu. Bahkan ada satu surah tersendiri di dalam Al-Qur'an menegaskan pentingnya menghargai waktu, yaitu surah al-'Ashr (Demi waktu).

Manusia proaktif ditandai dengan: Pola pikir dan perilakunya lebih besar ditentukan oleh diri sendiri, bukan orang lain. Produk pilihan sadarnya yang berkerja lebih kuat dan lebih mengacu kepada standar nilai, bukan standar perasaan. Pola rekrutmen yang dijalaninya bukan berdasarkan like and dislike tetapi berdasarkan meritokrasi dan keunggulan kompetitif. Ia tidak mengerjakan semua pekerjaan tetapi lebih banyak mengambil inisiatif. Dengan kata lain, bukan bagaimana mengerjakan semua tetapi bagaimana mempekerjakan orang lain. Dirinya lebih banyak berfungsi sebagai manajer.

Orang-orang proaktif tidak suka melempar tanggung jawab kepada orang lain, tetapi ia dengan sadar memikul tanggung jawab lebih dominan ketimbang orang lain. Ia tidak pernah menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam atau kambing putih, tetapi ia berusaha menyelesaikan setiap persoalan secara tenang dengan melibatkan semua komponen untuk bersama-sama terlibat di dalam menyelesaikan problem tertentu yang sedang dihadapi. Tidak pernah juga ia menyalahkan keadaan, kondisi, lingkungan, dan pihak-pihak lain, karena energy yang digunakan untuk mencari orang lain atau keadaan untuk dijadikan sebagai tumbal sama dengan energy yang digunakan untuk menyelesaikan sendiri problem itu.

Ia mampu mengatur atmosfir kerjanya sendiri tanpa didikte oleh orang lain atau keadaan. Dengan kata lain ia mampu memiliki dirinya sendiri tanpa dimiliki orang lain. Ia merdeka dan merasa leluasa menyelesaikan tugasnya dengan baik, tanpa ada pihak yang mengejar-ngejarnya. Pujian terhadap dirinya samasekali tidak memberikan pengaruh. Bahkan terkadang merasa risih jika ia selalu dipuji. Baginya bukan pujian yang lebih penting tetapi kinerja yang lebih solid. Bandingkan orang yang bertipe reaktif, jika sehari tidak ada orang yang memujinya ia sakit kepala. Perlakuan baik atau perlakuan buruk terhadap dirinya samasekali tidak mengubah keputusannya. Acuannya adalah system yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Tipe orang proaktif mau mengakui kelemahan dirinya sendiri sekaligus mau mengakui kelebihan orang lain. Tidak hanya mau menerima kelemahan dirinya lantas menolak kelebihan orang lain, walaupun itu kenyataan. Dalam tindakan, membuka peluang pendapat orang lain untuk menyempurnakan kelemahannya. Pada saat yang bersamaan ia bersedia berbagi dengan orang lain untuk menyelesaikan persoalan yang dialami saudaranya. Mereka yakin bahwa kesuksesan kolektif akan semakin positif bagi diri dan usahanya. Sebaliknya ia sadar kalau hanya dirinya dan perusahaannya yang maju di tengah keterpurukan orang lain malah bisa menjadi boomerang.

Pembawaan orang-orang proaktif sangat tegar, penuh percaya diri namun tidak over confidant. Ia amat dipercaya karena kecerdasan dan keadilannya di dalam bertindak. Pengendalian dirinya amat kuat dan rasa persahabatannya terkesan amat tulus dan permanen, tidak suka menjilat, ikhlas menerima kelebihan orang lain, dan yang pasti disenangi banyak orang. Jadilah manusia proaktif, ibda' bi nafsik!

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)