Merapi Siaga, Bupati Magelang Larang Pejabat Keluar Kota
Kamis, 13 Apr 2006 22:06 WIB
Magelang - Sejak ditingkatkan status Gunung Merapi dari 'Waspada' menjadi 'Siaga', Bupati Magelang Singgih Sanyoto melarang para pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten bepergian ke luar kota. Alasannya, bila sewaktu-waktu Merapi meletus, semua pejabat harus siap membantu masyarakat yang tertimpa bencana."Saat ini sudah Siaga, sehingga mereka juga harus siap melayani masyarakat yang membutuhkan tenaga dan pertolongan," kata Singgih kepada wartawan seusai acara sosialisasi perkembangan aktivitas vulkanik Merapi kepada jajaran Pemkab Magelang di Kota Mungkid, Kamis (13/4/2006).Singgih mengatakan pihaknya meminta pejabat di lingkungan Pemkab untuk stand by dan tidak bepergian keluar kota dengan tujuan agar siap membantu masyarakat bila Merapi meletus. "Karena Merapi bisa saja meletus sewaktu-waktu. Tidak mengenal waktu kapan akan meletus, entah itu hari libur atau tidak kalau memang sudah waktunya meletus maka akan meletus. Maka yang bisa kami lakukan adalah semuanya siap dengan segala kemungkinan," katanya.Menurut dia, bila meletus diperkirakan sebanyak 29.413 orang yang berada lereng Merapi di Kabupaten Magelang berpotensi untuk dievakuasi. Mereka itu tinggal di 21 desa di tiga kecamatan yakni Srumbung, Dukun dan Sawangan. Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik itu, dia meminta warga tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Terutama untuk menjauhi wilayah aliran sungai yang berhulu di Merapi. "Jika panik akan kacau tapi kalau waspada justru bisa meminimalisir kerugian," katanya.Sementara itu, Kepala Kantor Kesbanglinmas, Edi Susanto menambahkan dari 21 desa yang dinilai paling rawan terhadap bencana Merapi, tersebar di tiga kecamatan yakni Srumbung, Dukun dan Sawangan.Daerah rawan di Kecamatan Sawangan ada di desa Wonolelo, Ketep, Kapuhan, Krogowanan, Sawangan dan Gondowangi. Di Kecamatan Dukun, desa yang dianggap paling rawan antara lain Desa Sengi, Paten, Krinjing, Kalibening, Ngargomulyo, Mangunsuko dan Keningar. Sedang di kecamatan Srumbung antara lain Desa Ngargosuko, Mranggen, Ngablak, Kemiren, Kaliurang, Tegalrandu, Srumbung dan Nglumut. Untuk menampung para pengungsi kata Edi, pemkab telah menyiapkan tempat-tempat penampungan. Tempat penampungan sementara (TPS) I terdapat 28 buah. Kemudian TPS II sebanyak 20 buah dan tempat penampungan akhir (TPA) sebanyak 20 buah. Dia mengatakan masyarakat yang melakukan evakuasi berkumpul di TPS I untuk segera pindah ke TPS II dengan berbagai fasilitas seperti tenda darurat, dapur umum dan sarana MCK. Dari TPS II mereka selanjutnya dievakuasi ke TPA. Di semua tempat penampung juga disiapkan tenaga media dari Puskesmas."Sedang untuk sarana komunikasi, selain menggunakan HT (handy talky), kita juga menggunakan kentongan bila terjadi letusan," katanya.
(atq/)











































