Penduduk Lereng Gunung Merapi Siap Dievakuasi

Penduduk Lereng Gunung Merapi Siap Dievakuasi

- detikNews
Kamis, 13 Apr 2006 11:40 WIB
Penduduk Lereng Gunung Merapi Siap Dievakuasi
Boyolali - Penghuni kawasan dekat puncak Merapi menyatakan siap sewaktu-waktu dievakuasi seiring peningkatan aktivitas gunung teraktif di dunia itu. Sebab selain telah mendapat pemberitahuan dari pemerintah, warga juga telah menangkap tanda-tanda alam yang secara turun-temurun dijadikan penanda bagi warga."Tadi malam (Rabu malam -red) saya sudah berkoordinasi dengan seluruh tokoh masyarakat. Warga juga sudah siap dievakuasi sebagai pilihan terburuk yang harus ditempuh," ujar Budi Harsono, Kepala Desa Tlogolele, Selo, Boyolali, Kamis (23/4/2006). Pernyataan Budi tersebut berkaitan dengan peningkatan status Merapi dari Waspada menjadi Siaga sejak Rabu (12/4/2006) sore kemarin. Data yang ada menyebutkan saat ini gunung teraktif dunia dengan ketinggian 2.965 m dpl tersebut sudah meluncurkan lava dingin hingga mencapai kawasan Pasar Bubrah (2.500 dpl) serta terjadi deformasi maupun rekahan di kawasan itu.Pos Pengamatan Merapi di Samiran, Selo, melaporkan kondisi terakhir Merapi pada Kamis (13/4/2006) pagi telah mengalami delapan kali gempa vulkanik, dua kali gempa tektonik, 10 kali guguran lava serta MP 116 kali. Dari pengamatan visual, di sekitar puncak Merapi terdapat mendung dan sedikit hujan gerimis. Di Desa Tlogolele ini terdapat Dukuh Stabelan yang merupakan kawasan tertinggi di lereng Merapi yang dihuni penduduk. Di Dukuh tersebut terdapat 100 keluarga yang hingga saat ini masih tetap berada di rumah masing-masing, meskipun bukan berarti tidak melakukan persiapan jika sewaktu-waktu muncul bencana.Warga lereng Merapi, terutama di Stabelan, memang telah menangkap tanda-tanda yang telah dipercaya secara turun-temurun sebagai penanda alam. Tanda itu di antaranya adalah dirasakannya peningkatan suku udara yang berbeda dengan suhu udara pada saat-saat aktvitas Merapi dalam kondisi normal.Tanda lain yang terlihat adalah banyaknya kera penghuni kawasan puncak Merapi dalam jumlah banyak dan bergerombol. "Hewan-hewan lain seperti burung, harimau dan lainnya belum nampak turun. Kalau sudah turun semua, maka situasi sudah sangat gawat," ujar Budi Harsono.Meskipun warga menilai situasi Merapi belum cukup gawat, namun Budi telah melarang mereka, terutama warga Stabelan, bepergian jauh dari rumah. "Warga sudah kami minta tidak melakukan pergi ke hutan atau lahan garapan, untuk memudahkan bagi kami melakukan evakuasi dan menghindarkan mereka dari kemungkinan buruk setiap saat," ujarnya.Koordinasi EvakuasiSementara itu sebagai langkah persiapan, tempat pengungsian sementara (TPS) di desa Tlogolele sudah dinyatakan siap untuk menampung warga. TPS itu adalah SDN II Tlogolele dan Balai Desa Tlogolele. Demikian juga dengan peralatan pendukung evakuasi pengeras suara, kentongan, serta sirine bahaya.Langkah persiapan itu juga dibenarkan oleh Kepala Kesbanglinmas Boyolali, Albert Gintaryo. Menurut dia, Kamis pagi tadi sudah dilakukan koordinasi Tim Satkorlak Merapi. Koordinasi itu diikuti dari berbagai unsur di antaranya Polres Boyolali, Kodim, Dinas Kesehatan dan Sosial, Tim SAR serta Kesbanglinmas. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads