Stafsus Presiden Bahas 2 Kunci Lawan Intoleransi buat Generasi Muda

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Senin, 04 Okt 2021 15:41 WIB
Ngobrol Sore Semaunya x Kemendikbudristek bahas intoleransi di dunia pendidikan
Foto: detikcom
Jakarta -

Isu intoleransi seolah menjadi bahasan yang tak ada habisnya, namun tak boleh ditinggalkan begitu saja. Belakangan, isu ini kembali dibahas mengingat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI melalui program Pusat Penguatan Karakter mendapatkan amanah untuk menghapus 3 dosa dalam dunia pendidikan RI, yang meliputi Perundungan, Intoleransi, dan Kekerasan Seksual.

Dalam Ngobrol Sore Semaunya Ep. 44, Putri Tanjung membahas seputar hak-hak konstitusional masyarakat Indonesia dan kaitannya dengan isu intoleransi bersama Stafsus Presiden sekaligus Pendiri Program SabangMerauke, Ayu Kartika Dewi juga figur publik & YouTuber, Deddy Corbuzier.

Ayu bercerita tentang pentingnya penanaman nilai toleransi yang ia alami ketika menjalani program mengajar di Maluku Utara beberapa tahun lalu. Menariknya, ia juga bercerita soal kisah awal memulai pengalaman sebagai guru di lokasi terpencil setelah berhenti dari pekerjaannya di Singapura.

"Jadi waktu itu ceritanya lagi kerja di Singapura dan lihat ada pengumuman untuk jadi guru SD selama 1 tahun, lewat Facebook kalau enggak salah. Waktu itu gerakannya namanya Indonesia Mengajar. Yang saya pikirkan ini seru banget, saya selalu pengen melakukan sesuatu untuk Indonesia. Dan ketika itu kesempatannya menurut saya seru karena jadi guru SD, saya selalu suka main sama anak-anak dan dunia pendidikan," ungkap Ayu dalam NSS. Ep 44 bertema Kisah Inspiratif Toleransi Generasi Muda, dikutip Senin (4/10/2021).

Ia mengaku kesempatan ini dirasa bisa memenuhi berbagai keinginan dalam dirinya. Terlebih, masa program yang hanya berlaku selama satu tahun dirasa bisa memberi kesempatan untuk mencoba tanpa perlu khawatir terikat dalam waktu yang lama.

Tanpa dikira, pengalaman ini justru membawa Ayu pada jalan hidup yang tak disangka-sangka hingga ia mendirikan Program SabangMerauke yang telah berjalan sejak 2011 hingga saat ini. Ayu menjelaskan saat menjadi guru di Maluku Utara, ia melihat anak-anak kecil di sana masih diliputi kekhawatiran dan stigma yang muncul dari adanya kerusuhan antar-agama di tahun 1998-1999. Meski telah berlalu sejak lama, ketakutan akan sebagian orang kepada sebagian yang lain karena perbedaan agama masih dirasakan, bahkan oleh anak-anak yang tidak mengerti betul soal kerusuhan tersebut.

Untuk itu, Ayu memulai sebuah kunci untuk mengenalkan nilai toleransi pada generasi muda dengan cara membangun empati, salah satunya dengan menginisiasi Program SabangMerauke.

"Soal empati, kalau kita enggak pernah ketemu susah banget untuk membangun empati. Kita enggak kenal, gimana caranya bisa sayang kan. Gimana bisa paham dengan orang yang berbeda. Dari situlah saya bikin SabangMerauke, pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia. Anak-anak tinggal sama keluarga yang beda agama dan beda etnis," ungkapnya.

Selain empati, Ayu juga menekankan pentingnya critical thinking untuk melawan intoleransi. Menurutnya, kemampuan bernalar kritis ini penting untuk dimiliki dan dilatih kepada masyarakat, terutama anak-anak.

"Critical thinking itu bisa membuat kita jadi bisa mandiri memilah, ini benar enggak ya? Masuk akal enggak ya? Nyambung enggak ya dengan nilai-nilai kemanusiaan? Bakal menyakiti orang lain enggak ya? Pemikiran-pemikiran seperti itu butuh critical thinking dan keberanian, artinya itu harus dilatih sejak di rumah dan di sekolah," tutur Ayu.

"Kalau kita enggak punya critical thinking ditambah dengan empati, susah banget untuk kita punya toleransi di Indonesia," imbuhnya.

Ia pun mengatakan kemampuan bernalar kritis sudah menjadi salah satu elemen Profil Pelajar Pancasila yang diluncurkan Kemendikbudristek, karena elemen ini sangat penting untuk ditanamkan pada generasi muda.

"Karena kalau kita enggak bernalar kritis, proses kita menjadi manusia akan berhenti. Tidak peduli kita semuda apa pun, kita akan jadi orang tua yang kedaluwarsa kalau kita nggak bergerak dan belajar. Dunia akan terus berkembang, kalau kita nggak makin jago, pintar, dan enggak meningkatkan kualitas diri kita, kita akan dilibas oleh zaman," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Putri Tanjung mengungkap bahwa pemerintah melalui Kemendikbudristek telah berusaha menghapus dosa besar pendidikan Indonesia, salah satunya yaitu Intoleransi.

Adapun salah satu upayanya dengan memastikan terwujudnya hak-hak yang dijamin konstitusi untuk setiap anggota satuan pendidikan. Selain itu, Kemendikbudristek juga siap menerima laporan jika ada yang menemui kasus intoleransi untuk ditindaklanjuti.

Melihat langkah tersebut, Ayu pun menekankan pentingnya kolaborasi untuk membuat sistem yang telah dibuat Kemendikbudristek berjalan dengan baik. Sebab menurutnya, setiap manusia adalah seorang pendidik dan harus turut serta mengajarkan toleransi pada sesama.

"Jadi ketika kita melihat ada kejadian intoleransi ya jangan diam saja, tapi dilaporkan! Orang yang didiskriminasi juga harus dilindungi! Jangan karena orang nggak nyenggol aku, jadi diam saja. Ketika ada teman yang dirundung, ya kita harus bergerak melindungi, melaporkan, jangan sampai kita diam saja," tegasnya.

"Agar sistem ini bisa berjalan, enggak bisa Kemendikbudristek sendirian. Semua orang harus ikut serta dan harus ada orang yang berani jadi whistleblower (pelapor). Harus ada yang berani bersuara, karena kalau kita nggak berani bersuara, orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak mengenakkan akan terus-terusan merasa dibenarkan, lama-lama jadi tidak terkendali," tandasnya.

Sebagai informasi, Ngobrol Sore Semaunya Season 2 didukung oleh Kemendikbudristek. Tayangan ini akan hadir setiap minggunya di YouTube CXO Media, setiap hari Kamis pukul 18.00 WIB.

(fhs/ega)